44 Titik Panas Menyala di Riau, Manggala Agni Terkendala Krisis Sumber Air hingga Arah Angin yang Berubah-ubah

Sebanyak 44 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, Update 4 Agustus 2026 hingga pukul 23.00 WIB. Tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera di lokasi kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), kini juga dihadapkan pada krisis sumber air, melimpahnya bahan bakar alami, serta arah angin yang berubah-ubah.

44 Titik Panas Menyala di Riau, Manggala Agni Terkendala Krisis Sumber Air hingga Arah Angin yang Berubah-ubah
Sebanyak 44 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, Update 4 Agustus 2026 hingga pukul 23.00 WIB. Tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera di lokasi kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), kini juga dihadapkan pada krisis sumber air, melimpahnya bahan bakar alami, serta arah angin yang berubah-ubah. GRAFIS: BMKG

WARTASULUH.COM, PELALAWAN - Sebanyak 44 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, Update 4 Agustus 2026 hingga pukul 23.00 WIB. Tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera di lokasi kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), kini juga dihadapkan pada krisis sumber air, melimpahnya bahan bakar alami, serta arah angin yang berubah-ubah.

Forecaster On Duty BMKG Stasiun Pekanbaru Elisa JS Kedang, mengatakan, sebanyak 44 titik panas di Riau tersebar di Kabupaten Indragiri Hilir 11 titik panas, Indragiri Hulu 9 titik panas, Kota Dumai 8 titik panas, Pelalawan 7 titik panas, Kuantan Singingi 4 titik panas, Siak dan Rokan Hilir masing-masing 2 titik panas serta Kampar 1 titik panas.

"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera 426 titik panas yang tersebar di Provinsi Sumatera Selatan 169 titik panas, Kepulauan Bangka Belitung 94 titik panas, Lampung 46 titik panas, Riau 44 titik panas, Jambi 42 titik panas, Sumatera Utara 12 titik panas, Sumatera Barat 9 titik panas,  Kepulauan Riau 6 titik panas, Bengkulu 4 titik panas, dan Aceh 2 titik panas," ungkap Elisa JS Kedang, Rabu (5/8/2026).

Sementara itu, memasuki musim kemarau, tantangan petugas dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau semakin berat. 

Selain menghadapi luasnya area terbakar, tim di lapangan kini juga dihadapkan pada krisis sumber air, melimpahnya bahan bakar alami, serta arah angin yang berubah-ubah.

Kondisi tersebut terjadi di empat titik kebakaran yang hingga Senin (3/8/2026) masih ditangani Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, yakni di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu.

Di Pelalawan, pemadaman dilakukan di Kecamatan Kerumutan dengan estimasi luas terbakar sekitar 15 hektare yang telah memasuki hari kelima operasi. 

Satu titik lainnya berada di Desa Mak Teduh, Kecamatan Kerumutan, dengan estimasi luas 10 hektare dan baru memasuki hari pertama penanganan.

Sementara di Kabupaten Indragiri Hulu, kebakaran terjadi di Desa Paya Rambai, Kecamatan Siberida, seluas sekitar 1,5 hektare, serta di Desa Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, dengan estimasi luas mencapai 20 hektare.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan tantangan terbesar saat ini adalah semakin sulitnya memperoleh sumber air untuk pemadaman.

"Di hampir semua lokasi, kondisi air semakin sulit. Bahan bakar di lapangan sangat melimpah dan mudah terbakar, sementara arah angin berubah-ubah sehingga api mudah bergeser. Ini membuat proses pemadaman menjadi jauh lebih berat," kata Ferdian.

Menurutnya, kondisi paling berat dialami tim di Desa Paya Rambai, Kecamatan Siberida. Sumber air yang terbatas membuat petugas harus terus memindahkan pompa agar tetap dapat menyedot air.

"Di Paya Rambai, pompa harus dipindahkan setiap sekitar 30 menit karena sumber air cepat habis atau tekor. Untuk mengatasi kondisi itu, kami juga mengerahkan satu alat berat guna membersihkan kanal sekaligus membuat embung-embung sebagai tampungan air bagi proses pemadaman," ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera mulai menyiapkan penambahan personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) dari sejumlah daerah.

"Kami sedang merancang penambahan pasukan BKO. Personel Manggala Agni dari Daops Siak, Pekanbaru, dan Jambi kami siapkan untuk memperkuat pemadaman di beberapa lokasi yang membutuhkan tambahan tenaga," ungkap Ferdian.

Selain personel darat, operasi pemadaman juga diperkuat oleh berbagai unsur lintas instansi dan dukungan water bombing di sejumlah lokasi.

Di sisi lain, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus dilakukan untuk membantu menekan potensi meluasnya karhutla. Pada Senin (3/8/2026), OMC melaksanakan dua sortie penerbangan. 

Sortie pertama menyasar wilayah Indragiri Hilir, Siak, dan Pelalawan, sedangkan sortie kedua diarahkan ke Bengkalis dan Dumai.

Ferdian memastikan operasi pemadaman dilanjutkan pada Selasa (4/8/2026) pagi. "Kami berharap dukungan seluruh pihak, termasuk doa masyarakat, agar personel di lapangan selalu diberikan keselamatan dan upaya pemadaman dapat segera mengendalikan seluruh titik kebakaran," tutupnya. (shd)