207 Titik Panas Menyala di Riau, Tim Gabungan Fokus Sisir Sisa Bara Api Karhutla di Kerumutan Pelalawan

Sebanyak 207 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, terbanyak di Kabupaten Pelalawan 91 titik panas berdasarkan Update Info Hotspot Riau BMKG pada 27 Agustus 2026 pukul 23.00 WIB. Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau, memasuki tahap mopping up setelah area kebakaran berhasil dilakukan penyekatan.

207 Titik Panas Menyala di Riau, Tim Gabungan Fokus Sisir Sisa Bara Api Karhutla di Kerumutan Pelalawan
Sebanyak 207 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, terbanyak di Kabupaten Pelalawan 91 titik panas berdasarkan Update Info Hotspot Riau BMKG pada 27 Agustus 2026 pukul 23.00 WIB. Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau, memasuki tahap mopping up setelah area kebakaran berhasil dilakukan penyekatan. FOTO: Manggala Agni

WARTASULUH.COM, PELALAWAN - Sebanyak 207 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, terbanyak di Kabupaten Pelalawan 91 titik panas berdasarkan Update Info Hotspot Riau BMKG pada 27 Agustus 2026 pukul 23.00 WIB. Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau, memasuki tahap mopping up setelah area kebakaran berhasil dilakukan penyekatan.

Prakirawan BMKG Pekanbaru Bella R Adelia, mengatakan, sebanyak 207 titik panas di Riau itu tersebar di Kabupaten Pelalawan 91 titik panas, Indragiri Hilir 58 titik panas, Siak 19 titik panas, Kuantan Singingi 18 titik panas, Indragiri Hulu 17 titik panas, Bengkalis 2 titik panas, Kota Dumai dan Pekanbaru masing-masing 1 titik panas.

"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera 2.051 titik panas yang tersebar di Provinsi Sumatera Selatan 1.280 titik panas, Kepulauan Bangka Belitung 264 titik panas, Riau 207 titik panas, Lampung 153 titik panas, Jambi 86 titik panas, Aceh 27 titik panas, Sumatera Utara 16 titik panas, Kepulauan Riau 12 titik panas, serta Bengkulu dan Sumatera Barat  masing-masing 3 titik panas," ungkap Bella R Adelia, Jumat (28/8/2026).

Sementara itu, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau, memasuki tahap mopping up setelah area kebakaran berhasil dilakukan penyekatan.

Kepala Manggala Agni Daops Sumatera VII/Rengat, Muhammad Ilham Sidik, mengatakan kondisi tempat kejadian perkara (TKP) saat ini sudah tersekat. Tim kemudian berfokus pada penanganan sisa bara api yang masih berada di bawah lapisan gambut.

“Kondisi TKP sudah tersekat. Posisi saat ini tahapan mopping up,” kata Ilham.

Ia menjelaskan, mopping up dilakukan dengan menyasar bara api yang masih tersisa di bawah lapisan gambut. Penanganan ini penting untuk memastikan bara tidak kembali aktif dan memicu penjalaran api.

“Target pengerjaan penyerangan terhadap bara api yang tersisa di bawah lapisan gambut,” ujarnya.

Ilham mengatakan proses mopping up belum selesai dan akan dilanjutkan pada Jumat (28/8/2026). Tim masih melakukan penanganan pada bagian-bagian yang berpotensi menyimpan bara.

Sementara itu, untuk mengetahui perkembangan luasan kebakaran secara terbaru, Manggala Agni belum melakukan penghitungan ulang. Data luasan terbaru akan diperbarui setelah data citra satelit terbaru tersedia.

“Estimasi lahan terbakar belum kita lakukan perhitungan kembali. Besok baru ada update citra satelit untuk data terbarunya,” jelasnya.

Sebagai pengingat dari data sebelumnya, laporan penanganan Manggala Agni pada 24 Agustus 2026 mencatat luas area terbakar di Kelurahan Kerumutan sekitar 702 hektare. Saat itu, tim gabungan masih melakukan penyekatan kepala api di sisi selatan lokasi, membuka akses jalan menggunakan alat berat excavator, serta melakukan pencucian kanal.

Penanganan karhutla di lokasi tersebut melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD Provinsi dan Kabupaten, Damkar Kabupaten Pelalawan, Dinas Kehutanan Provinsi Riau, KPH Sorek DLHK Provinsi Riau, MPA, serta sejumlah regu pemadam kebakaran perusahaan.

Sebelumnya, tim menghadapi sejumlah tantangan dalam proses pemadaman, antara lain kecepatan angin, cuaca panas ekstrem, volume bahan bakar potensial dan kedalaman gambut.

Dengan lokasi yang kini sudah tersekat, fokus penanganan diarahkan untuk memastikan sisa bara di bawah lapisan gambut benar-benar dapat dikendalikan.

Kegiatan mopping up akan kembali dilanjutkan untuk memastikan kondisi lokasi semakin aman dan mencegah munculnya kembali api.

“Besok kegiatan mopping up akan dilanjutkan,” pungkas Ilham. (shd)