KKN Gumilang Gunem Gelar Festival Sains SDN Demaan, Ajak Siswa Belajar Lewat Eksperimen dan Kompetisi

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Tim Gumilang Gunem bimbingan Dr. Sailal Arimi, M.Hum ini menyelenggarakan Festival Sains SD Demaan dengan tujuan: membawa sains keluar dari buku dan masuk ke pengalaman langsung siswa sekolah dasar.

KKN Gumilang Gunem Gelar Festival Sains SDN Demaan, Ajak Siswa Belajar Lewat Eksperimen dan Kompetisi
Mahasiswa KKN memberi aba-aba sambil menjelaskan prinsip aksi–reaksi. Ketika peluncur dilepas, roket melesat, meninggalkan cipratan air dan teriakan refleks siswa yang berlarian.

WARTASULUH.COM, REMBANG – Di SD Negeri Demaan, sains tak hadir sebagai definisi di papan tulis. Ia muncul sebagai semburan air yang memaksa siswa menutup mata, buih berwarna yang meluap dari botol plastik, serta pertanyaan cepat yang menuntut jawaban tepat dalam hitungan detik.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Tim Gumilang Gunem bimbingan Dr. Sailal Arimi, M.Hum ini menyelenggarakan Festival Sains SD Demaan dengan tujuan: membawa sains keluar dari buku dan masuk ke pengalaman langsung siswa sekolah dasar.

Di salah satu sudut kelas, simulasi gunung meletus berlangsung. Botol plastik diletakkan di tengah baskom. Cairan berwarna dituangkan perlahan. Beberapa siswa mencondongkan badan, yang lain mundur setengah langkah. 

Ketika reaksi kimia terjadi dan buih menyembur keluar, sorak kecil terdengar, disusul tawa dan pertanyaan spontan—mengapa bisa meluap, mengapa cepat berhenti, dan apa yang terjadi jika takaran diubah.

Mahasiswa KKN memilih membiarkan siswa bereksperimen, bahkan keliru. Kesalahan tak langsung dikoreksi, melainkan dijadikan pintu masuk diskusi. Dari situ, konsep reaksi kimia sederhana diperkenalkan bukan sebagai hafalan, melainkan sebagai proses yang dapat diamati.

Di ruang berbeda, suasana berubah tegang. Cerdas cermat Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam digelar dengan format kompetisi. Siswa saling berbisik, menghitung cepat, lalu berebut mengangkat tangan. Soal-soal dirancang untuk menguji logika dasar dan pemahaman konsep, bukan sekadar ingatan. Beberapa peserta tampak ragu sebelum menjawab, namun sorakan teman sebangku membuat mereka mantap melangkah.

Puncak keramaian terjadi di lapangan sekolah. Roket air—dirakit dari botol plastik bekas, pipa PVC, dan pompa—siap diluncurkan. Air dipompa, tekanan meningkat.

Mahasiswa KKN memberi aba-aba sambil menjelaskan prinsip aksi–reaksi. Ketika peluncur dilepas, roket melesat, meninggalkan cipratan air dan teriakan refleks siswa yang berlarian.

Bagi sebagian siswa, ini menjadi pengalaman pertama melihat konsep fisika bekerja secara nyata. Roket yang meluncur lurus atau justru berbelok menjadi bahan evaluasi bersama: sudut sirip, keseimbangan, dan tekanan.

Koordinator Desa Demaan Tim KKN Gumilang Gunem, Ananda Shabrina Putri Gunawan, mengatakan festival ini dirancang untuk mematahkan anggapan bahwa sains adalah pelajaran yang kaku.

“Kami ingin siswa merasakan prosesnya—mencoba, salah, lalu mencoba lagi. Dari situ, rasa ingin tahu tumbuh,” ujarnya.

Pihak sekolah menilai pendekatan praktik seperti ini memberi warna baru dalam pembelajaran. Kepala SD Negeri Demaan menyebut metode eksperimen dan kompetisi membuat siswa lebih berani bertanya dan menyampaikan pendapat.

Festival Sains SD Demaan merupakan bagian dari program unggulan KKN Gumilang Gunem di Kecamatan Gunem. Di akhir kegiatan, tak ada nilai rapor yang dibagikan. Yang tersisa justru pakaian basah, tangan lengket oleh buih, dan satu pelajaran penting: sains bukan sesuatu yang jauh, melainkan dekat—dan bisa disentuh.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Tim Gumilang Gunem ini, Dr. Sailal Arimi, M.Hum ketika berkunjung melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan pengabdian ini merasa bahagia dan puas karena ilmu yang dipelajari di kampus dipraktikkan dengan inovasi kepada siswa-siswa di Demaan. 

Dari 120 program kerja yang dilaksanakan mahasiswa berasal dari 5 proker per mahasiswa dari total 24 mahasiswa, banyak lagi program kegiataan yang dilaksanakan seperti membuat pemetaan potensi UMKM desa, pembuatan konten wisata religi di Panohan, sosialisasi bahaya cyberbullying, narkoba, rokok, pembuatan tepung mocaf, peningkatan literasi dengan menulis surat pada pemimpin negara, pembuatan insinerator-pembakar sampah minim polusi, dan sebagainya. 

“Saya berharap mahasiswa belajar menerapkan pengetahuannya, berinteraksi langsung dengan masyarakat sehingga masyarakat desa tempat KKN mendapat manfaat dari kerja-kerja pengabdian ini,” kata Sailal Arimi.

Program KKN ini, katanya, memberi pengalaman yang lengkap kepada mahasiswa. 

“Mereka tidak hanya merecall hasil pembelajaran di kampus, tetapi mencoba mempraktikkan ilmunya di masyarakat, dalam pada itu mereka belajar berinteraksi langsung dengan orang baru sebagai mitra mereka, memecahkan sampai mencari solusi atas masalah di sekitar mereka. Pengalaman-pengalaman ini akan membekas dan tentu mereka bawa setelah sarjana kelak,” tambahnya. (rls)