Banyak Gen Z Kena Kanker Usus Besar, Dokter Bicara Kemungkinan Pemicunya

Banyak Gen Z Kena Kanker Usus Besar, Dokter Bicara Kemungkinan Pemicunya
Pemicu Kanker Usus Besar, Foto: Detik

WARTASULUH.COM- Kasus kanker usus besar (kolorektal) yang dulu identik dengan usia lanjut, kini makin sering ditemukan pada usia muda, termasuk generasi Z. Fenomena ini mulai terlihat juga di Indonesia dan menjadi perhatian para ahli karena pergeseran usia pasien terjadi cukup nyata.

Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dr R Soeko Werdi Nindito D, MARS, mengatakan perubahan pola pasien kanker memang sedang terjadi. Usia pengidap kanker semakin muda, termasuk pada kanker kolorektal yang sebelumnya jarang ditemukan pada usia di bawah 40 tahun.

Menurut dr Soeko, hingga kini penyebab pasti semua jenis kanker masih terus diteliti. Ada kanker yang jelas dipicu virus, adapula berkaitan dengan faktor genetik, serta yang sangat dipengaruhi pola hidup sehari-hari.

"Untuk kanker usus besar, pola makan dan gaya hidup menjadi perhatian utama," ujar dr Soeko dikutip dari detikhealth, Rabu( 4/2/2026).

Ia menegaskan, kanker bukan penyakit dengan satu penyebab tunggal. Berbeda misalnya dengan kanker serviks yang jelas disebabkan virus HPV, pada kanker usus besar faktor pemicunya lebih kompleks. Pola makan rendah serat, tinggi gula, konsumsi makanan olahan, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, hingga obesitas diduga berperan besar.

Gaya hidup generasi muda saat ini dinilai sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Konsumsi minuman manis, makanan cepat saji, aktivitas fisik yang minim karena lebih banyak duduk di depan gawai, serta pola tidur tidak teratur membuat paparan risiko terjadi lebih dini.

Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu terjebak pada pertanyaan apa penyebab pastinya. Menurutnya, langkah yang jauh lebih penting adalah memperkuat upaya promotif dan preventif.

"Jangan pusing soal mencari satu penyebab. Dalam kanker ada tujuh program promotif dan preventif yang perlu dipromosikan ke masyarakat," kata dia.

"Pola hidup sehat, jangan merokok, jangan konsumsi gula berlebihan. Yang kedua deteksi dini. Kalau sudah merasa tidak enak, ada cek kesehatan gratis, di situ ada kemungkinan deteksi kanker tahap awal," lanjutnya.

Masyarakat didorong menjalani pola hidup sehat, tidak merokok, membatasi gula, serta mulai memedulikan deteksi dini. Keluhan seperti perubahan pola buang air besar, BAB berdarah, perut kembung yang menetap, atau berat badan turun tanpa sebab jelas sebaiknya tidak diabaikan.

dr Soeko juga menyoroti pentingnya kemampuan deteksi dini di layanan kesehatan primer, seperti puskesmas, agar kasus kanker bisa dikenali lebih awal sebelum dirujuk ke rumah sakit rujukan.

Menurutnya, banyak pasien datang dalam kondisi stadium lanjut karena terlambat memeriksakan diri. Padahal, jika ditemukan lebih awal, peluang penanganan jauh lebih baik.

"Kalau masyarakat lebih aware dan rutin cek kesehatan, sangat mungkin kanker ditemukan di tahap awal, bahkan di daerah," tutup dr Soeko.