Ketika Pelukan Menjadi Bahasa Kasih, Perjalanan Sunyi Susilawati Merawat Hati Anak-Anak Istimewa di SLB Bumi Manggalo
WARTASULUH.COM, PEKANBARU - Azam bergelayut manja di lengan Susilawati, seolah menemukan rumah yang paling aman di dunia. Tak ada sekat kecanggungan. Bocah sembilan tahun dengan kebutuhan khusus itu menyandarkan kepalanya, berbicara lewat gestur dan tatapan yang hanya bisa dipahami oleh hati yang tulus.
Bagi Susi, sapaan akrab sang guru, Azam bukan sekadar murid di bangku sekolah. Ia adalah anak istimewa yang menempati ruang paling hangat di hatinya.
"Azam ini memang dekat sekali dengan saya. Saya pun sangat sayang dengan anak itu," ujar Susilawati membuka cerita tentang kesehariannya di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bumi Manggalo, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis.

Tangan-tangan terampil siswa SLB Bumi Manggalo merangkai kain percah. (Foto: Lestari)
Kenangan Susi melayang pada hari-hari pertama Azam menginjakkan kaki di sekolah. Dengan motorik yang tergolong lambat, Azam kecil menolak keras nasi. Setiap kali butiran nasi disuapkan, tangisnya pecah disusul rasa mual.
Namun, kesabaran tidak pernah lelah. Selama berminggu-minggu, Susi dengan telaten membujuk, merayu, dan menyuapi bocah itu pelan-pelan. Hingga suatu hari, ketulusan itu berbuah manis. Azam mulai menerima makanan tersebut, dan tubuhnya pun berangsur berisi.
"Saking senangnya melihat perkembangannya, saya sampai nangis kalau ingat masa-masa sulit mendekati Azam," aku ibu dua anak ini lirih.

Di tangan anak berkebutuhan khusus ini, kayu bisa disulap menjadi kerajinan yang memiliki nilai ekonomis. (Foto: Lestari)
Bagi Susi sendiri, menjadi pendidik anak berkebutuhan khusus tak pernah terlintas dalam garis takdirnya. Lulusan Sarjana Ekonomi Universitas Riau ini sempat merajut karier di perusahaan swasta usai tamat kuliah. Niat awal bergabung di SLB Bumi Manggalo sekadar "coba-coba", namun berujung pada cinta yang mengakar kuat.
Hampir satu dekade berlalu, Susi tak pernah goyah. Setiap hari, jarak tempuh satu jam perjalanan dari kediamannya di Rangau, Desa Petani, Kecamatan Batin Solapan, dilalui tanpa keluh.
"Senyum dan tawa anak-anak seakan-akan memanggil. Mereka ngangenin. Begitu melihat senyum mereka, segala beban musnah. Anak-anak istimewa ini adalah penawar mujarab bila hati gundah," kata Susi dengan mata berbinar.
Di balik honor yang tergolong pas-pasan, Susi mengaku menemukan kebahagiaan yang tak terukur oleh materi. "Kalau Allah mengizinkan, saya ingin mengabdi di sini seumur hidup. Semoga ini menjadi ladang amal bagi saya," ucapnya haru.
Perubahan kecil yang dirajut Susi di sekolah ternyata membawa gelombang kebahagiaan yang besar di rumah. Fitri, ibunda Azam, merasakan betul bagaimana SLB Bumi Manggalo telah menjadi jangkar penyelamat bagi masa depan buah hatinya. Kehadiran sekolah ini memberikan arti yang sangat penting dan membawa transformasi nyata bagi tumbuh kembang sang anak.
"Azam sudah empat tahun sekolah di sini. Banyak mengalami perkembangan. Sudah lebih mandiri dan mengenal huruf dan angka. Terpenting lagi mau makan nasi dan bersosialisasi," ungkap Fitri dengan penuh rasa syukur.
Melihat transformasi sang buah hati, Fitri tak kuasa menahan rasa haru. Ucapan terima kasih yang tak terhingga ia haturkan kepada para guru, khususnya Susi, yang dengan sabar merangkul dan membimbing anak berkebutuhan khusus.
"Semoga apa yang guru-guru berikan menjadi amal jariah. Hanya Allah yang bisa membalasnya," tutur Fitri tulus.
Dari Niat Tulus Muhammad Umar
Cerita kehangatan di SLB Bumi Manggalo tak lepas dari jejak langkah pendirinya, Muhammad Umar. Berawal dari niat tulus untuk mengangkat harkat anak-anak disabilitas di wilayah tersebut, Umar mendirikan sekolah ini pada tahun 2012 di atas lahan seluas kurang lebih 2 hektar di bawah bendera Yayasan Bumi Manggalo.
Perjuangannya bermula dari keterbatasan. Dahulu, kegiatan belajar mengajar harus menumpang di kawasan masjid setempat dengan hanya berbekal dua Ruang Kelas Belajar (RKB).
Kini, sekolah swasta tersebut terus tumbuh dan bersiap mengepakkan sayap. Dari yang semula sangat bersahaja, SLB Bumi Manggalo telah dilengkapi dengan aula, kantin, musala, ruang praktik, serta RKB tambahan.
Saat ini, dengan didukung 10 orang guru yang berdedikasi tinggi, SLB Bumi Manggalo menaungi 53 siswa aktif dengan beragam latar belakang ketunaan. Sekolah ini siap menyejajarkan diri dengan SLB lain yang lebih dulu berkembang.
Meniti Kemandirian Bersama Sentuhan PHR
Perjuangan merawat asa anak-anak istimewa ini kini makin tegar berkat hadirnya sinergi dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Melalui program Community Involvement Development (CID), BUMN perminyakan dan gas yang beroperasi di wilayah tersebut turut ambil bagian membidani potensi siswa agar memiliki keterampilan produktif dan bernilai ekonomi.

PT PHR hadir membantu mewujudkan kemandirian anak-anak berkebutuhan khusus SLB Bumi Manggalo
Program pemberdayaan yang dikembangkan sejak 2025 ini berfokus pada berbagai bidang keterampilan, seperti kriya kayu, menjahit, hingga olahan clay.
Manager CID PHR, Iwan Ridwan Faisal, menjelaskan bahwa pendampingan dan pelatihan berkesinambungan diberikan agar potensi anak-anak dapat menjadi bekal kemandirian masa depan.
"Anak-anak berkebutuhan khusus ini kita berikan pendampingan dan pelatihan, bagaimana mereka nantinya dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki untuk menjadi potensi ekonomi yang dapat generate income dari penjualan," ungkap Iwan.
Bagi PHR, pemberdayaan tak sekadar memberi alat, tetapi memastikan keterampilan itu hidup dan terus bertumbuh.
Kepala SLB Bumi Manggalo, Aulia Nur Izzah, S.Pd., GR, mengingat betul bagaimana kegiatan keterampilan di sekolahnya pada rentang 2022-2023 masih sangat terbatas menggunakan bahan sederhana seperti karton.
"Saya awalnya tidak yakin akan ada pihak yang membantu sekolah. Sebelumnya saya sudah mencoba ke beberapa perusahaan besar yang ada di sini untuk meminta bantuan, tetapi tidak mendapatkan respons," kenang Aulia.
Namun, keraguan itu sirna ketika PHR membuktikannya lewat aksi nyata, mulai dari penyediaan alat dan bahan, pelatihan bersertifikat untuk guru dan siswa, fasilitas lengkap, hingga membuka akses pemasaran hasil karya siswa. Saat ini, terdapat empat siswa (tiga tunagrahita dan satu tunarungu) yang masuk dalam tahap awal pembinaan kriya kayu dari tahap pengolahan hingga finishing.
Oase di Tengah Keterbatasan
Langkah kolaboratif ini memantik apresiasi dari berbagai pihak. Sekretaris Komisi V DPRD Riau yang membidangi pendidikan, Robin P Hutagalung, menilai kepedulian PHR merupakan bukti nyata kontribusi BUMN dalam mencetak generasi bangsa yang tangguh dan mandiri tanpa diskriminasi.
"Semua anak memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Kehadiran PHR di satuan pendidikan lewat program-programnya sangat tepat," tegas Robin.
Apresiasi senada disampaikan Kasi Sarana dan Prasarana Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Dinas Pendidikan Riau, Helen. Di tengah keterbatasan fiskal daerah sejak 2024 yang berdampak pada efisiensi anggaran pelatihan guru, dukungan dari PHR terasa bagai oase di gurun pasir.
"Sejak 2024, tidak ada lagi pelatihan-pelatihan untuk guru SLB karena anggaran yang terbatas. Jadi kami sangat berterima kasih atas kontribusi PHR dalam membantu pengembangan pendidikan," tutur Helen.
Saat ini, di Provinsi Riau tercatat ada 58 negeri dan swasta dengan total lebih dari 1.000 siswa aktif. Di antara ribuan anak itu, murid-murid SLB Bumi Manggalo kini melangkah lebih percaya diri, diajar oleh guru-guru berhati emas seperti Susilawati, dan ditopang oleh kepedulian bersama yang mengubah keterbatasan menjadi karya bernilai tinggi.
Penulis: Sri Lestari



Lestari



