Kualitas Udara Pekanbaru 15 Oktober 2026 Tidak Sehat, 11.707 Orang Alami Gangguan Kesehatan, Ini Tata Cara Salat Istisqa Meminta Turun Hujan
Kualitas Udara Pekanbaru 15 Oktober 2026 Tidak Sehat hingga pukul 04.00 WIB dengan Konsentrasi Partikulat (PM2.5) 149,7 µg/m3. Hingga saat ini total sudah ada 11.707 kasus gangguan kesehatan dialami warga Kota Pekanbaru akibat terpapar kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari daerah lain.
WARTASULUH.COM, PEKANBARU – Kualitas Udara Pekanbaru 15 Oktober 2026 Tidak Sehat hingga pukul 04.00 WIB dengan Konsentrasi Partikulat (PM2.5) 149,7 µg/m3. Hingga saat ini total sudah ada 11.707 kasus gangguan kesehatan dialami warga Kota Pekanbaru akibat terpapar kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari daerah lain.
Berdasarkan pantauan Wartasuluh.com dari laman BMKG, Kamis (15/10/2026), Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat sejak pukul 02.00 WIB dengan Konsentrasi Partikulat 197 µg/m3 dan pukul 04.00 WIB sebesar 149,7 µg/m3.
Bahkan, Kualitas Udara Pekanbaru sempat Sangat Tidak Sehat pada pukul 00.00 WIB dengan Konsentrasi Partikulat 207,2 µg/m3, pukul 01.00 WIB sebesar 155 µg/m3 dan pukul 03.00 WIB sebesar 177,5 µg/m3. .
Particulate Matter (PM2.5) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 µm (mikrometer).
Pengukuran konsentrasi PM2.5 menggunakan metode penyinaran sinar beta (Beta Attenuation Monitoring) dengan satuan mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Akibat kabut asap ini, berdasarkan data Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru hingga pertengahan Oktober 2026, tercatat sebanyak 11.707 kasus gangguan kesehatan dialami warga akibat terpapar kabut asap.
Kepala Diskes Kota Pekanbaru, Hazli Fendriyanto, menjelaskan angka tersebut merupakan data kumulatif yang dihimpun sejak 25 Agustus 2026. Penetapan pendataan ini dimulai tepat setelah ditetapkannya status siaga darurat kebakaran lahan di wilayah Pekanbaru.
"Seluruh data kesehatan tersebut berhasil direkap dari fasilitas pelayanan kesehatan yang tersebar di kota tersebut, yakni mencakup 21 Puskesmas dan 30 rumah sakit. Dari total belasan ribu kasus yang tercatat, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling dominan menyerang masyarakat," ujar Hazli.
Secara rinci, kasus ISPA mendominasi dengan jumlah mencapai 9.816 penderita. Selain ISPA, warga juga mengalami gangguan kesehatan lain seperti asma sebanyak 892 kasus, iritasi kulit sebanyak 498 kasus, serta konjungtivitis atau iritasi mata sebanyak 328 kasus.
Guna meminimalisasi dampak yang semakin meluas, Pemko Pekanbaru melalui Diskes terus memperkuat langkah pencegahan dan penanganan medis. Salah satu upaya yang ditingkatkan adalah promosi kesehatan secara masif melalui Puskesmas, termasuk mengimbau warga agar membatasi aktivitas di luar rumah dan wajib menggunakan masker saat berpergian.
"Masyarakat juga dianjurkan untuk menutup pintu, jendela, serta ventilasi rumah guna membatasi masuknya partikel asap ke dalam ruangan. Langkah ini sangat krusial untuk melindungi anggota keluarga dari paparan polusi udara, terutama bagi kelompok yang rentan terhadap penyakit pernapasan," jelasnya.
Selain menggalakkan imbauan, Diskes Pekanbaru turut membagikan masker secara gratis kepada masyarakat dengan stok yang dipastikan masih mencukupi. Pemko Pekanbaru juga menggandeng perusahaan dan korporasi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membantu pengadaan serta penyaluran masker bagi warga.
"Dari sisi pelayanan medis, seluruh Puskesmas dan rumah sakit di Pekanbaru disiagakan dengan pemenuhan obat-obatan, tabung oksigen, serta peralatan penanganan ISPA," tegasnya.
Tak hanya itu, jam pelayanan Puskesmas juga diperpanjang hingga pukul 21.00 WIB serta tetap beroperasi pada hari Sabtu dan Minggu agar warga terlayani dengan optimal.
Tata Cara Salat Istisqa
Salat Istisqa, dikutip dari laman Kemenag.go.id, merupakan salat sunah yang dilaksanakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika masyarakat mengalami kekeringan atau tidak mendapatkan curah hujan yang mencukupi dalam waktu yang cukup lama.
Pelaksanaan Salat Istisqa tidak dimaksudkan menggantikan langkah penanganan dan mitigasi yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat. Ikhtiar spiritual harus berjalan beriringan dengan ikhtiar lahiriah, seperti pencegahan karhutla, penghematan dan distribusi air bersih, perlindungan sumber mata air, rehabilitasi lingkungan, serta kepatuhan terhadap informasi dan peringatan dini dari instansi yang berwenang.
Dalam konteks kebakaran hutan dan lahan, masyarakat juga tetap harus menghindari pembakaran lahan, meningkatkan kewaspadaan terhadap titik api, serta mengikuti arahan pemerintah dan petugas di lapangan. Dengan demikian, Salat Istisqa menjadi bagian dari keseimbangan antara ikhtiar manusia dan ketergantungan kepada Allah SWT.
Sebelum pelaksanaan Salat Istisqa, pemerintah daerah, tokoh agama, atau pihak terkait dapat mengajak masyarakat untuk melaksanakan puasa selama tiga hari. Selama masa tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak taubat, istighfar, doa, sedekah, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Pada hari keempat, masyarakat berkumpul di lapangan atau tempat terbuka pada pagi hari untuk melaksanakan Salat Istisqa secara berjamaah. Waktu pelaksanaannya sebagaimana waktu Salat Idulfitri dan Iduladha.
Masyarakat dianjurkan menghadiri Salat Istisqa dengan penuh kerendahan hati, menghadirkan kesungguhan dalam berdoa, serta menyadari bahwa hujan merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang sangat menentukan keberlangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Salat Istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah. Sebelum salat, jemaah berniat melaksanakan Salat Istisqa. Lafal niat yang dapat dibaca adalah:
أُصَلِّي سُنَّةَ الِاسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى
"Ushallī sunnatal-istisqā'i rak‘ataini mustaqbilal-qiblati imāman/ma'mūman lillāhi ta‘ālā."
Artinya: "Saya berniat Salat Sunah Istisqa dua rakaat dengan menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah Ta'ala."
Pelaksanaan Salat Istisqa pada prinsipnya menyerupai Salat Id. Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram dilakukan takbir sebanyak tujuh kali. Selanjutnya imam membaca Surah Al-Fatihah dan surah atau ayat Al-Qur'an, kemudian rukuk, iktidal, sujud, dan menyelesaikan rakaat pertama.
Pada rakaat kedua dilakukan takbir sebanyak lima kali. Setelah itu imam membaca Surah Al-Fatihah dan surah atau ayat Al-Qur'an, dilanjutkan dengan rukuk, iktidal, sujud, tahiyat akhir, dan salam.
Setelah pelaksanaan salat, khatib menyampaikan khutbah kepada jemaah. Khutbah Salat Istisqa terdiri atas dua khutbah yang disampaikan dengan berdiri dan diselingi duduk di antara keduanya.
Dalam khutbah, khatib dianjurkan memperbanyak istighfar serta mengajak umat Islam melakukan taubat secara sungguh-sungguh atas segala dosa dan kesalahan. Khatib juga dapat mengingatkan bahwa kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, krisis air, maupun berbagai bencana alam lainnya harus menjadi momentum untuk melakukan introspeksi sekaligus memperkuat kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Taubat dalam konteks ini tidak cukup dipahami hanya sebagai ucapan istighfar. Kesadaran spiritual juga perlu diwujudkan melalui perilaku nyata dengan tidak merusak lingkungan, tidak membakar hutan dan lahan sembarangan, menjaga sumber air, menghindari pemborosan air, serta bersama-sama menjaga keseimbangan alam.
Khatib disunnahkan memperbanyak takbir pada awal khutbah, yakni sembilan kali pada khutbah pertama dan tujuh kali pada khutbah kedua.
Dalam rangkaian doa Salat Istisqa, khatib disunnahkan menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, serta membalik atau memindahkan posisi selendang yang dikenakannya.
Pembalikan selendang tersebut mengandung pengharapan agar Allah SWT membalikkan keadaan masyarakat dari kekeringan menjadi turunnya hujan, dari kesulitan menuju kemudahan, dan dari kondisi yang berat menuju keadaan yang lebih baik.
Pada saat tersebut, seluruh jemaah memperbanyak doa dan memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang bermanfaat, mencukupi kebutuhan air masyarakat, menyuburkan tanah dan tanaman, membantu memulihkan wilayah yang mengalami kekeringan, serta mendukung upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.
Hujan yang dimohonkan adalah hujan yang membawa rahmat dan manfaat, bukan hujan yang mendatangkan bencana.
Pelaksanaan Salat Istisqa hendaknya sekaligus menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa menghadapi bencana membutuhkan ikhtiar secara menyeluruh.
Dalam menghadapi kekeringan dan karhutla, masyarakat tetap harus melakukan langkah pencegahan, menjaga ketersediaan air, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta mengikuti peringatan dini pemerintah.
Begitu pula ketika menghadapi erupsi gunung api, Salat Istisqa maupun doa tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan rekomendasi keselamatan. Masyarakat harus tetap mengikuti informasi resmi, menjauhi kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya, serta mengikuti arahan evakuasi apabila diperintahkan oleh pihak berwenang.
Ikhtiar lahiriah dan batiniah bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru harus dilaksanakan secara beriringan.
Salat Istisqa pada akhirnya tidak hanya menjadi permohonan agar hujan diturunkan. Lebih dari itu, pelaksanaannya menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali kepada Allah SWT, memperbanyak taubat dan istighfar, meningkatkan solidaritas kepada masyarakat terdampak bencana, serta memperbaiki cara manusia memperlakukan alam.
Di tengah kekeringan, karhutla, erupsi gunung api, dan berbagai ancaman bencana yang terjadi di Indonesia, kesadaran spiritual tersebut diharapkan melahirkan kesadaran sosial dan ekologis: berdoa kepada Allah SWT, membantu sesama, menjaga lingkungan, serta melakukan berbagai langkah nyata untuk mengurangi risiko bencana. (shd)



Lestari



