265 Titik Panas Menyala di Riau, Pemerintah Picu Hujan Buatan dengan Operasi Modifikasi Cuaca hingga 1 September 2026 untuk Atasi Karhutla

Sebanyak 265 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, terbanyak di Kabupaten Pelalawan 120 titik panas berdasarkan Update Info Hotspot Riau BMKG pada 28 Agustus 2026 pukul 23.00 WIB. Pemerintah kembali menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 29 Agustus hingga 1 September 2026 guna menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau, untuk memicu hujan buatan di atas lahan gambut yang terbakar.

265 Titik Panas Menyala di Riau, Pemerintah Picu Hujan Buatan dengan Operasi Modifikasi Cuaca hingga 1 September 2026 untuk Atasi Karhutla
Sebanyak 265 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, terbanyak di Kabupaten Pelalawan 120 titik panas berdasarkan Update Info Hotspot Riau BMKG pada 28 Agustus 2026 pukul 23.00 WIB. Pemerintah kembali menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 29 Agustus hingga 1 September 2026 guna menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau, untuk memicu hujan buatan di atas lahan gambut yang terbakar. GRAFIS: BMKG

WARTASULUH.COM, PELALAWAN - Sebanyak 265 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, terbanyak di Kabupaten Pelalawan 120 titik panas berdasarkan Update Info Hotspot Riau BMKG pada 28 Agustus 2026 pukul 23.00 WIB. Pemerintah kembali menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 29 Agustus hingga 1 September 2026 guna menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau, untuk memicu hujan buatan di atas lahan gambut yang terbakar.

Prakirawan BMKG Pekanbaru Indah DN, mengatakan, sebanyak 265 titik panas di Riau itu tersebar di Kabupaten Pelalawan 120 titik panas, Indragiri Hilir 67 titik panas, Bengkalis dan Indragiri Hulu masing-masing 20 titik panas, Kuantan Singingi 15 titik panas, Siak 14 titik panas, Rokan Hilir dan Rokan Hulu masing-masing 3 titik panas, Kampar 2 titik panas dan Kota Dumai 1 titik panas.

"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera 1.813 titik panas yang tersebar di Provinsi Sumatera Selatan 1.036 titik panas, Riau 265 titik panas, Jambi 181 titik panas, Lampung 100 titik panas, Kepulauan Bangka Belitung 91 titik panas, Aceh 77 titik panas, Sumatera Utara 54 titik panas, Kepulauan Riau 4 titik panas, Bengkulu 3 titik panas, dan Sumatera Barat 2 titik panas," ungkap Indah DN, Sabtu (29/8/2026).

Sementara itu, pemerintah kembali menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 29 Agustus hingga 1 September 2026 guna menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Langkah darurat ini diambil untuk memicu hujan buatan di atas lahan gambut yang terbakar.

Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni menyampaikan rencana tersebut usai menghadiri Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla di GOR Presisi Polda Riau pada Jumat (28/8/2026).

“Kira-kira di tanggal 29, 30, 31, sampai tanggal 1. Terutama tanggal 1 ada potensi hujan besar di seluruh Riau,” kata Raja Juli.

Ia menjelaskan bahwa hujan alami maupun buatan merupakan faktor paling efektif dalam memadamkan titik api, khususnya di wilayah gambut. Meskipun demikian, pemerintah tetap mengoptimalkan pemadaman darat dan pemompaan air oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Setiap potensi awan semai yang muncul di langit Riau akan langsung dimanfaatkan untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Pihak Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin juga telah menyetujui pembukaan akses bandara secara penuh bagi pesawat OMC.

“Kami sudah sepakati semua, sekecil apa pun potensi awan hujan, awan semai, maka akan kami lakukan operasi modifikasi cuaca,” tegas Raja Juli.

Selain rekayasa cuaca, pemerintah berencana menambah armada helikopter water bombing untuk memperkuat lima unit helikopter yang telah beroperasi di Riau. Tambahan armada udara tersebut saat ini sedang dikoordinasikan dengan Kementerian Pertahanan.

“Nanti saya akan telepon Pak Menhan habis ini juga untuk segera mungkin dikirim untuk memperkuat lima heli yang sudah digelar di Riau,” ujar Raja Juli.

Satu helikopter pemadam yang sebelumnya dipinjamkan ke Provinsi Kalimantan Selatan juga berpeluang ditarik kembali ke Riau. Penarikan armada tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi karhutla di wilayah Kalimantan Selatan. (shd)