Kisah Pejuang Migas di Dumai Terminal Oil Wharf; Maintenance dan Inovasi Kunci Jaga Energi Mengalir ke Pelosok Negeri hingga 100 Tahun Lagi

"Kita punya program maintenance (PMS) per minggu, bulan, tahun dan 5 tahun. Tengah malam pun kalau ada trouble maka tim maintenance langsung bekerja. Kita jaga jangan sampai minyak tumpah ke laut. Kita produksinya banyak, exitnya itu di sini. Hanya satu tempat. Outputnya itu hanya ada di sini. Ibaratnya, kita ujung tombak dalam melayani customer untuk proses pemuatan. Kalau seandainya pelabuhan kita ditutup, maka minyak kita tak bisa keluar," ucap Capt Agung Eko Saputro.

Kisah Pejuang Migas di Dumai Terminal Oil Wharf; Maintenance dan Inovasi Kunci Jaga Energi Mengalir ke Pelosok Negeri hingga 100 Tahun Lagi
Deputi Port Facility and Security Officer, Capt Agung Eko Saputro, sedang berkoordinasi di Dumai Terminal Oil Wharf 3 pada Jumat (18/9/2026). Kapal tanker MT Supreme Star sudah selesai loading dan tengah bersiap berlayar menuju Kilang Minyak Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis. FOTO: Harismanto/Wartasuluh.com

Oleh: Harismanto, Wartawan Wartasuluh.com

“A ship in harbor is safe, but that is not what ships are built for,” ungkap John Augustus Shedd, seorang penulis dan profesor dari Amerika yang menciptakan kutipan ini pada tahun 1928, dalam bukunya Salt from My Attic.

Sebuah kapal aman di pelabuhan, tetapi bukan itu tujuan kapal dibangun. Kapal dirancang bukan sekadar untuk bersandar di dermaga, melainkan untuk membelah lautan, menerjang ombak, dan mengalirkan minyak bumi dari Dumai Terminal Oil Wharf ke kilang-kilang di seluruh negeri.

Di balik kelancaran pasokan energi nasional, terdapat peran strategis armada dan fasilitas Marine Dumai Pertamina Hulu Rokan (PHR). Dengan komitmen utama “Navigating Safety, Delivering Reliability”, fasilitas pelabuhan ini menjadi garda terdepan dalam operasi penampungan, pengapalan, dan penyaluran minyak mentah (crude oil) hasil produksi blok Rokan.

Saat ini, 100 persen alokasi pengapalan minyak mentah dari Terminal Marine Dumai untuk kebutuhan domestik, demi mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional. Setiap bulannya, terminal ini melayani rata-rata 10 hingga 15 pergerakan kapal tanker, menghubungkan minyak bumi dari wilayah kerja Rokan ke seluruh pelosok Nusantara.

Sebelum dikapalkan, minyak mentah dari lapangan disalurkan melalui sistem jaringan pipa menuju Hydrocarbon Transportation (HCT) Crude Oil Terminal Operation Center di Kota Dumai. Di fasilitas di bawah Crude Oil Terminal Operation Center ini terdapat 16 tangki pengumpul produksi minyak (Tank Farm) dengan total kapasitas 5,1 juta barel. Satu Tank Farm itu berkapasitas 150 ribu barel, hingga yang terbesar 650 ribu barel.

"Jadi produksi minyak dari seluruh lapangan itu, dibawa ke stasiun pengumpul atau gathering station, untuk melakukan pemprosesan awal, sebelum dikirim ke tanki penyimpanan. Dan dari gathering station itu akhirnya dikirim ke tanki penyimpanan yang ada di Dumai," ungkap Deputi Port Facility and Security Officer, Capt Iwan Susanto yang didampingi Capt Agung Eko Saputro, saat Wartasuluh.com berkunjung pada Jumat (18/9/2026).

Kemudian, minyak mentah disalurkan ke Kilang Unit Pengolahan (Refinery Unit/RU) II Dumai milik PT Kilang Pertamina Internasional, Subholding Refinery and Petrochemical Pertamina, melalui jalur pipa. Sebagiannya lagi disalurkan melalui pipa ke kapal-kapal tanker yang merapat di Dumai Terminal Oil Wharf, menuju kilang minyak milik Pertamina. Dia antaranya, Kilang Plaju (Palembang, Sumatera Selatan), Kilang Balongan (Indramayu, Jawa Barat), Kilang Cilacap (Cilacap, Jawa Tengah) dan Kilang Balikpapan (Balikpapan, Kalimantan Timur).

Total ada empat dermaga, kata Capt Agung Eko Saputro, untuk memuat minyak ke kapal tanker di fasilitas ini. Pertama, Oil Wharf Satu yang dibangun pada tahun 1968 dan mampu melayani kapal tanker hingga kapasitas 150.000 DWT. Kedua, Oil Wharf Dua dibangun pada tahun 1972 dan mampu melayani kapal hingga 150.000 DWT (secara historis pernah disandari kapal supertanker tipe VLCC/Suezmax hingga kapasitas 1,0 - 2,5 juta barel dengan pengaturan khusus). 

"Pada tahun 1995 lalu, sebuah kapal besar bersandar di Oil Wharf Dua, dengan ukuran panjang kapal lebih 300 meter. Kapal tanker besar itu sampai menutup Oil Wharf Satu dan Oil Wharf Tiga," kenang Capt Agung Eko Saputro.

Ketiga, Oil Wharf Tiga yang dibangun pada tahun 1958 dan di-downgrade untuk melayani kapal tanker dengan kapasitas hingga 60.000 DWT ke bawah. Terakhir, Oil Wharf Empat yang saat ini sudah tidak dioperasikan untuk pengapalan utama.

Minyak itu dialirkan melalui jaringan pipa untuk loading line, berukuran 2 inch di Oil Wharf Satu, Oil Wharf Dua 30 inch, dan Oil Wharf Tiga 30 inch. Dalam sebulan, pelabuhan beroperasi sejak tahun 1958 itu melayani 12-15 kapal. Kapal-kapal itu, dikirim oleh Kilang Pertamina di luar RU II. "Kalau sekarang ini cuma domestik lah. Cuma sampai Balikpapan, paling jauhnya," kata Capt Agung Eko Saputro.

Saat Wartasuluh.com mengunjungi Dumai Terminal Oil Wharf, sedang ada Kapal tanker MT Supreme Star, yang sudah selesai loading di Oil Wharf Tiga. Kapal ini tengah bersiap menyusuri perairan Selat Rupat, Tanjung Jati, dan Selat Bengkalis, menuju Kilang Minyak Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis.

Ujung Tombak PHR
Setiap bulan, Dumai Terminal Oil Wharf sudah punya planning dengan SKK Migas. Pasalnya, tidak semua minyak yang diangkut milik Pertamina, karena ada juga minyak dari EMP Gandewa (PT EMP Energi Gandewa) dan EMP Tonga, anak usaha dari PT Energi Mega Persada Tbk (EMP). Kemudian minyak milik SPR Langgak, Texcal Energy Mahato dan lainnya. 

"Kita evaluasi untuk kapal-kapal yang bisa masuk dan ada kemungkinan juga bisa berubah. Kalau pertamakali kapal masuk, kita lakukan penyesuaian dengan aturan pelabuhan. Mulai dari persiapan hingga loading. Lalu dikirim ke tim komersial, mana yang bisa diterima dan mana yang tidak," jelas Capt Agung Eko Saputro.

Setelah itu, katanya, dibuat jadwal shipping plane, untuk kapal yang lulus. Setelah tahu ada kapal yang akan masuk, tiga hari sebelum loading, pihak pelabuhan dapat dokument instruction. "Lalu ditunjuk surveyour. Kemudian kita komunikasi dengan kapal via email. Kita minta beberapa dokumen, setelah itu baru dilayani. Kita juga evaluasi dokumen, jadi tidak sembarangan," papar  Capt Agung Eko Saputro.

Terminal Marine Dumai ini adalah ujung tombak PHR. Oleh karena itu, maintenance sangat penting untuk keberlangsungannya. Pengerukan (dredging) rutin dilakukan berkala 5 tahun sekali, untuk menjaga kedalaman perairan (draft) di area IWF 1, 2, dan 3 pada kedalaman 15 meter LWS, sehingga aman untuk navigasi kapal-kapal besar. 

"Kita punya program maintenance (PMS) per minggu, bulan, tahun dan 5 tahun. Tengah malam pun kalau ada trouble maka tim maintenance langsung bekerja. Kita jaga jangan sampai minyak tumpah ke laut. Kita produksinya banyak, exitnya itu di sini. Hanya satu tempat. Outputnya itu hanya ada di sini. Ibaratnya, kita ujung tombak dalam melayani customer untuk proses pemuatan. Kalau seandainya pelabuhan kita ditutup, maka minyak kita tak bisa keluar," ucap Capt Agung Eko Saputro.

Untuk Loading Arm yang dibangun tahun 1958, mereka bekerjasama dengan PT Pindad untuk membuatkan sparepart yang sudah tak ada. Sehingga pelabuhan itu masih bisa dipakai 100 tahun ke depan strukturnya, kalau kondisi normal. 

Selain itu, katanya juga dilakukan digitalisasi master data, sehingga saat inspeksi semua bisa melihat database. "Kalau kita bilang kapal layak, semua bisa melihat. Kita juga improve waiting time kapal. Saat ini, kita sedang ikut optimalisasi program waiting time kapal agar tak terlalu lama menunggu. 10 ribu USD per hari untuk biaya jangkar kapal kecil. Jadi kalau kapal datang kita gak ready, maka Pertamina akan rugi,|" ungkap Capt Agung Eko Saputro.

Sebagai inovasi, katanya, sedang diupayakan Pelabuhan Pertamina yang Ecoport dengan mempunyai fasilitas pembuangan sampah. "Selama ini tak ada pelabuhan seperti itu," sebutnya. 

Secara pribadi, Capt Agung Eko Saputro mengaku bangga bekerja di Pelabuhan Pertamina Dumai. Meskipun, dunia pelayaran, bukan impiannya sejak kecil. "Dunia pelayaran itu bukan impian saya, tapi diarahkan orangtua. Kebetulan saya dapat kerja ikatan dinas. Hanya 6 tahun, terakhir Chief Officer di kapal luar negeri, cruse kapal VLCC, pernah di LNG, dan kapal chemical product. Saya keliling dunia dan pada tahun 2001, saya ditugaskan di Dumai sampai sekarang," ungkap Capt Agung Eko Saputro.

Hal senada juga diungkapkan Naufal WIyartha, Loading Master di Dumai Terminal Oil Wharf. Baginya dan keluarga, bekerja di pelabuhan minyak itu adalah kebanggaan tersendiri. Tak heran, walau hujan badai menerpa saat bekerja, semangat putra asli Dumai itu tak pernah padam. "Namun, saya selalu berdoa dan minta restu keluarga, sebelum memulai aktivitas," tutup alumni Teknik Kimia itu.

Di area operasional pelabuhan ini, keselamatan kerja (safety) bukan sekadar aturan, melainkan budaya yang wajib melekat pada setiap individu. Melalui induksi keselamatan (Safety Induction), setiap pekerja, tamu, dan mitra dipastikan memahami potensi risiko operasional serta regulasi yang berlaku.

Pelabuhan ini dilengkapi dengan perizinan dan sertifikasi aktif hingga tahun 2027 (termasuk ISPS Code) serta sertifikasi OSRP (Oil Spill Response Plan) yang valid hingga 2029. Operasional maritim didukung oleh Tim Marine Master profesional serta petugas PFSO (Port Facility Security Officer) yang bertanggung jawab atas manajemen risiko maritim, kepatuhan ISPS Code, dan kolaborasi dengan otoritas pelabuhan.

Sebagai fasilitas pelabuhan berstandar internasional yang menerapkan ISPS Code (International Ship and Port Facility Security Code), Marine Dumai menerapkan kriteria ketat untuk akses dan keselamatan pengunjung. Setiap tamu wajib melalui pemeriksaan identitas di security gate serta mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) standar (helm keselamatan, sepatu safety, serta Personal Flotation Device / Life Jacket saat beraktivitas di dermaga). Apabila sirine bahaya berbunyi (12 kali tiupan panjang), seluruh personil dan tamu wajib segera melakukan evakuasi menuju Master Station (titik kumpul) yang berada di sebelah kiri gedung utama/area parkir. (harismanto)