3,8 Juta Lansia Dibayangi Ancaman Masalah Paru-paru hingga Jantung Imbas Karhutla
WARTASULUH.COM- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman serius bagi jutaan lansia di wilayah terdampak. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 3,8 juta lansia tinggal di delapan provinsi yang terdampak karhutla.
Paparan asap tidak hanya menyebabkan gangguan pernapasan, tetapi juga memperburuk kondisi kesehatan lansia yang memiliki penyakit penyerta.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan lansia termasuk kelompok yang paling rentan ketika kualitas udara memburuk.
"Lansia itu memang kelompok yang rentan karena biasanya sudah mempunyai penyakit penyerta atau komorbid," kata Imran kepada detikcom Senin (1/9/2026).
Asap karhutla mengandung partikel halus seperti PM2.5 dan PM10 yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Pada lansia dengan riwayat asma, bronkitis, atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kondisi tersebut dapat memicu kekambuhan atau memperberat gejala.
Risikonya juga tidak terbatas pada paru-paru. Paparan polusi udara dapat meningkatkan beban pada sistem kardiovaskular, terutama pada lansia dengan hipertensi atau penyakit jantung.
Besarnya dampak kesehatan mulai terlihat dari laporan kasus ISPA. Kemenkes mencatat lebih dari 50 ribu kasus ISPA hingga akhir Agustus 2026, dengan hampir 40 ribu kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.
Kalimantan Barat mencatat lebih dari 16 ribu kasus, sedangkan Kalimantan Tengah melaporkan lebih dari 6 ribu kasus.
Kemenkes Siapkan Layanan
Menghadapi kondisi tersebut, Kemenkes menyiagakan layanan kesehatan di puskesmas, rumah sakit rujukan hingga pos pengungsian. Fasilitas tersebut dilengkapi kebutuhan seperti oksigen konsentrator, tabung oksigen, dan obat-obatan.
Distribusi masker juga dilakukan ke sejumlah wilayah terdampak. Lebih dari 267 ribu masker dikirim ke Kalimantan Tengah dan lebih dari 470 ribu masker ke Jambi.
Kemenkes turut melakukan pemantauan kasus melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Situasi Khusus. Public Safety Center (PSC) 119 dan tenaga cadangan kesehatan juga disiagakan untuk menghadapi kondisi darurat.
Di tingkat keluarga, lansia sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Jika harus keluar, penggunaan masker perlu diperhatikan. Asupan cairan dan konsumsi obat rutin juga harus tetap terjaga.
Imran mengingatkan keluarga atau caregiver untuk mengenali tanda bahaya, seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, hingga kebingungan yang muncul secara tiba-tiba.
"Jangan sampai karena bencana, pengobatan penyakit kronis mereka terputus," pungkasnya.



Khaliza
