Kerusakan Ginjal yang Sering Terlambat, Baru Ketahuan di Stadium Akhir

Kerusakan Ginjal yang Sering Terlambat, Baru Ketahuan di Stadium Akhir
Kerusakan Ginjal yang Sering Terlambat, Baru Ketahuan di Stadium Akhir, Foto: Detik

WARTASULUH.COM- Tanpa disadari, fungsi ginjal bisa saja merosot hingga setengahnya. Hal ini bisa terjadi sebelum ginjal menunjukkan tanda-tanda bahaya lewat pemeriksaan laboratorium biasa.

Banyak orang menyangka jika kadar kreatinin atau zat limbah hasil metabolisme otot yang disaring oleh ginjal di dalam darah masih normal. Artinya, ginjal dalam kondisi sehat.

Padahal, tes kreatinin tunggal sering kali 'terlambat' mendeteksi kerusakan ginjal di tahap awal.

Direktur Teknis BDR Pharmaceuticals Internationals, India, Dr Aravind Badiger, menjelaskan bahwa saat kadar kreatinin darah melonjak secara abnormal, ginjal sebenarnya sudah kehilangan sekitar 40 hingga 50 persen fungsinya.

"Diagnosis penyakit ginjal sebagian besar terlambat karena sifat penanda serum yang digunakan seperti kreatinin serum," jelas Dr Badiger, dikutip dari Times of India.

"Temuan terbaru menunjukkan bahwa kerusakan ginjal terjadi lebih awal dari yang diperkirakan pada tingkat mikrostruktural, jauh sebelum kelainan apa pun terdeteksi oleh tes darah biasa," lanjutnya.

Mengapa Ginjal Bisa 'Diam-diam' Rusak?

Di dalam setiap ginjal manusia, terdapat sekitar satu juta nefron atau unit penyaring mikroskopis yang berfungsi membuang racun dan mempertahankan nutrisi penting.

Ketika nefron mulai rusak akibat gaya hidup atau penyakit tertentu, nefron yang masih sehat akan 'pasang badan' dan bekerja ekstra keras untuk mengompensasi. Efeknya, ginjal tampak seolah-olah tetap bekerja normal dan hasil kadar kreatinin darah pun terlihat aman-aman saja.

Periode tanpa gejala atau asimtomatik ini bahkan bisa berlangsung berhitung tahun.

Terkait masalah ginjal, penyakit seperti diabetes dan tekanan darah tinggi (hipertensi) merupakan faktor risiko terbesar.

Kadar gula darah yang tinggi terus-menerus memicu proses kimia bernama glikosilasi protein dan pembentukan AGEs (Advanced Glycation End-products). Itu merupakan senyawa berbahaya yang memicu peradangan serta merusak pembuluh darah halus di dalam ginjal.

Akibatnya, terjadi cedera hiperfiltrasi-kondisi di mana unit penyaring ginjal dipaksa menyaring darah dengan tekanan yang terlalu tinggi secara terus-menerus hingga akhirnya 'haus'.

Apakah Cukup dengan Tes Kreatinin?

Demi mendeteksi kerusakan ginjal lebih awal, Dr Badiger merekomendasikan beberapa tes tambahan yang jauh lebih sensitif dibandingkan sekadar cek kreatinin tunggal:

  1. Tes Albumin Urin (Rasio Albumin-Kreatinin): Cek urine untuk melihat apakah ada kebocoran albumin (protein darah) ke dalam urine. Jika ada, ini adalah sinyal awal saringan ginjal mulai bocor.
  2. Pemantauan Tren eGFR (estimated Glomerular Filtration Rate): Menghitung perkiraan laju penyaringan ginjal secara berkala untuk melihat penurunan fungsi dari waktu ke waktu.
  3. Biomarker Sistatin C: Cek protein khusus dalam darah yang fungsinya mirip kreatinin, tetapi jauh lebih sensitif mendeteksi penurunan fungsi ginjal di tahap awal.

Maka dari itu, bagi orang dengan faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, obesitas, maupun yang memiliki riwayat keluarga penyakit ginjal, melakukan pemeriksaan ginjal secara rutin adalah kunci utama. Selain itu, langkah pencegahan harian yang tak kalah penting meliputi:

  • Menjaga gula darah dan tekanan darah tetap stabil.
  • Mengurangi asupan garam berlebih.
  • Menjaga kecukupan cairan tubuh (hidrasi).
  • Hindari konsumsi obat pereda nyeri (antiinflamasi) secara sembarangan tanpa petunjuk dokter, karena dapat meracuni ginjal jika diminum jangka panjang.