Sekelumit Cerita Pelaku Isoman, Support Keluarga dan Sahabat Jadi Obat Mujarab 'Pejuang Negatif'
Banyak cerita yang dialami pasien Covid-19 saat isolasi mandiri (isoman) dan menjadi inspirasi bagi orang lain

WARTASULUH.COM, PEKANBARU - Positif terpapar Covid-19 mungkin tak pernah terbayang olehnya. Dia cukup yakin, virus tersebut tidak bakal menghampirinya mengingat selama ini dia sudah cukup ketat menerapkan
protokol kesehatan (prokes), apalagi dia pun sudah mendapatkan vaksinasi dua
kali.
Tapi ibarat peribahasa bijak "Untung tak dapat diraih, malang tak dapat
ditolak", itu pulalah yang menimpa Nadra. Pegawai swasta berusia 47 tahun
tersebut baru meyakini bahwa kehidupan didepan kita adalah rahasia Allah,
untung maupun malang sering datang tiba-tiba tanpa disangka.
"Langit terasa runtuh, dunia seperti kiamat, pengen teriak sekuat-kuatnya,
nangis sekencang-kencangnya begitu hasil swab PCR (polymerase chain
reaction) saya positif," ujar Nadra.
Nadra adalah salah satu pasien Covid-19 yang bergejala ringan. Karena gejala
tidak berat, dia akhirnya memutuskan untuk melakukan isolasi mandiri
(isoman).
Di keluarga kecilnya, Nadra tidak sendiri. Ada dua anggota keluargnya yang
turut terpapar. Selain dia ada anaknya yang berusia 6 tahun dan orang tuanya
yang berusia lansia juga terpapar Covid-19 berdasarkan hasil PCR.
Beda dengan orang tuanya yang bergejala berat dan terpaksa dirawat isolasi
di salah satu rumah sakit swasta di Pekanbaru, Nadra dan anaknya cukup
isolasi mandiri saja.
Sebenarnya, warga Jalan Singgalang, Kecamatan Tenayan Raya ini bisa isolasi
mandiri di rumah saja. Tapi khawatir akan menimbulkan keresahan
tetangganya, akhirnya dia memutuskan untuk isoman di fasilitas yang
disediakan Pemerintah Riau. "Inginnya isoman di rumah saja. Tapi takut nanti
menimbulkan keresahan tetangga. Akhirnya memutuskan isolasi di luar saja.
Keputusan itu juga karena dorongan dari Tim Satgas Kelurahan. Satgas
menganjurkan untuk isolasi di fasilitas yang disiapkan pemerintah, karena
lebih aman dan di bawah pantauan tim madis," kata Nadra.
Akhirnya dengan keputusan bulat, dia memilih salah satu fasilitas yang
disiapkan pemerintah yakni Rumah Sehat gedung Lembaga Penjaminan Mutu
Pendidikan (LPMP) Riau Jalan Gajah Nomor 21 Rejosari, Pekanbaru sebagai
'rumahnya' untuk isolasi mandiri bersama buah hatinya selama 14 hari.
Selama isoman tersebut, dukungan dan support dari suami, keluarga dan
sahabat tak putus diberikan kepadanya. "Alhamdulillah, suami, keluarga dan
sahabat selalu memberikan support. Mereka selalu meyakinkan bahwa kami akan
baik-baik saja. Kalimat yang tak pernah mereka lupakan adalah jangan pikir
macam-macam, pikir positif saja, anggap saja isoman itu untuk memanjakan
diri," tutur Nadra.
Support itu diakui Nadra sangat berarti bagi dirinya, memacu dirinya untuk
kuat melewati masa isoman dengan yang saat itu kondisi kesehatannya sempat
naik turun. "Support dari mereka itu menjadi obat mujarab bagi saya. Saya
lebih semangat. Semangat itu penting karena saya juga harus tetap kelihatan
kuat dan terkesan tidak terjadi apa-apa di mata anak saya," katanya lirih.
Di Rumah Sehat LPMP, warganya dilabeli dengan sebutan 'Pejuang Negatif'.
Tadinya Nadra heran dengan label tersebut. Tapi setelah dipikir-pikir label
itu diakuinya sarat makna.
"Warga di Rumah Sehat itu memang pantas disebut pejuang negatif. Karena
untuk bisa negatif dari yang tadinya positif Covid-19 memang butuh
perjuangan. Perjuangan bangaimana terus membangun dan menjaga imun tubuh.
Karena virus Covid-19 hanya bisa dilawan oleh imunitas dalam tubuh. Kalau
imun tubuhnya tinggi, maka virus Covid-19 dapat dikendalikan," beber Nadra.
14 hari Nadra dan anaknya menjalani isoman. Dia pun mengaku sudah sangat
lebih baik dari sebelumnya. Satu hal yang tetap akan menjadi tekadnya adalah
tetap mematuhi protokol kesehatan sebagaimana yang terus dikampanyekan pemerintah.
"Jangan pernah merasa bahwa diri kita sudah kebal dari serangan Covid-19. Ingat, vaksinasi tak menjamin diri kita terbebas dari Covid-19. Prokes harus tetap kita jalani. Anggaplah memakai masker, menjaga jarak, membiasakan cuci tangan dengan sabun, sebisa mungkin menghindari kerumunan dan nongkrong-nongkrong jadi gaya hidup baru kita kini," sentil Nadra. (Sri)