Riau Sedang Hadapi Fase El Nino Kuat, Siapkan 18 Posko Karhutla dan Tim Respons Cepat
Riau sedang menghadapi fase El Nino kuat, bersamaan dengan periode kritis atau puncak musim kemarau pada Agustus hingga September, berdasarkan informasi BMKG. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Riau bersama TNI dan Polri memperkuat sistem respons cepat menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan
WARTASULUH.COM, PEKANBARU - Riau sedang menghadapi fase El Nino kuat, bersamaan dengan periode kritis atau puncak musim kemarau pada Agustus hingga September, berdasarkan informasi BMKG. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Riau bersama TNI dan Polri memperkuat sistem respons cepat menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pembentukan tim gabungan, clusterisasi, rayonisasi, serta 18 posko di sejumlah wilayah.
“Berdasarkan informasi BMKG, Riau sedang menghadapi fase El Nino kuat, bersamaan dengan periode kritis atau puncak musim kemarau pada Agustus hingga September. Karena itu, peringatan dini harus segera diterjemahkan menjadi aksi dini,” ungkap Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, saat apel bersama Forkopimda dan seluruh unsur terkait di Halaman Mapolda Riau, Senin (10/8/2026).
Apel kesiapsiagaan menjadi langkah untuk memastikan seluruh unsur yang terlibat memiliki kesiapan personel, peralatan, komunikasi, serta dukungan operasi sehingga dapat bergerak cepat apabila terjadi karhutla.
Plt Gubernur Riau mengatakan kondisi cuaca saat ini membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi, terutama karena Riau memasuki periode kritis musim kemarau pada Agustus hingga September.
Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga awal triwulan pertama 2027 sehingga upaya pencegahan dan kesiapsiagaan harus dilakukan sejak dini.
Menurutnya, kesiapan personel dan peralatan menjadi aspek penting dalam menghadapi potensi karhutla. Setiap unsur diminta memastikan kendaraan, alat komunikasi, perlengkapan keselamatan, sumber air, hingga akses menuju wilayah rawan berada dalam kondisi siap digunakan.
“Jangan sampai penanganan terlambat karena peralatan tidak berfungsi atau akses menuju lokasi belum diketahui. Melalui apel ini, mari kita pastikan kesiapan personel, peralatan, komunikasi, serta dukungan operasi dapat digerakkan ketika dibutuhkan,” katanya.
SF Hariyanto menegaskan penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dunia usaha, dan masyarakat harus terus diperkuat, terutama dalam melakukan deteksi dini dan respons cepat di wilayah yang memiliki potensi kebakaran.
Sementara itu, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo mengatakan kondisi cuaca yang semakin kering membutuhkan kesiapan seluruh unsur secara terpadu.
Perubahan pola angin monsun juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi penyebaran kebakaran.
“Berdasarkan prediksi BMKG, kita sudah memasuki tahap awal, El Nino sudah mulai mendekat, kemudian angin monsun dari utara semakin kecil membawa uap air dan berganti dengan angin monsun dari selatan, dari Australia, yang cenderung lebih kering. Nantinya, kemungkinan El Nino yang saat ini sudah sangat kuat dapat berubah menjadi ekstrem kuat,” jelasnya.
Ia mengatakan berbagai langkah telah dilakukan bersama sejak tahap pra-bencana. Upaya tersebut mencakup patroli, edukasi masyarakat, penyampaian imbauan, serta mitigasi struktural dan nonstruktural untuk menekan potensi terjadinya kebakaran.
“Semua sudah kita lakukan supaya ada kesadaran bersama untuk menjaga lahan-lahan yang ada di wilayah Riau ini. Meskipun besar kemungkinan kondisi tersebut akan terjadi, kita sudah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasinya,” pungkasnya.
Pemerintah Provinsi Riau bersama TNI dan Polri juga memperkuat sistem respons cepat menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pembentukan tim gabungan, clusterisasi, rayonisasi, serta 18 posko di sejumlah wilayah.
Sistem tersebut disiapkan untuk memastikan setiap kejadian dapat segera diverifikasi dan ditangani sebelum api berkembang lebih luas. (kha)
Lestari



