Seekor Tapir Jantan Ditemukan Mati di Jalan Koridor RAPP Estate Baserah Kuasing, Diduga Dihantam Truk

Seekor Tapir (Tapirus indicus) jantan dewasa dengan 300 kilogram, ditemukan mati di tengah jalan koridor areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Estate Baserah, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). 

Seekor Tapir Jantan Ditemukan Mati di Jalan Koridor RAPP Estate Baserah Kuasing, Diduga Dihantam Truk
Seekor Tapir (Tapirus indicus) jantan dewasa dengan 300 kilogram, ditemukan mati di tengah jalan koridor areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Estate Baserah, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). FOTO: BBKSDA Riau

WARTASULUH.COM, KUANSING - Seekor Tapir (Tapirus indicus) jantan dewasa dengan 300 kilogram, ditemukan mati di tengah jalan koridor areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Estate Baserah, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). 

"Berdasarkan pola luka dan trauma fisik yang ditemukan, tapir malang ini diduga kuat tewas seketika setelah dihantam dengan keras oleh kendaraan roda empat atau truk bermuatan besar yang melintas dengan kecepatan tinggi di jalan koridor perusahaan tersebut," ungkap Ujang Holisudin, Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Minggu (21/6/2026).

Atas kejadian ini, BBKSDA Riau mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh perusahaan yang beroperasi di sekitar habitat satwa. 

"Kami mengimbau agar rambu-rambu perlintasan satwa segera dipasang dan kecepatan kendaraan dibatasi secara ketat. Sebagai salah satu spesies kunci pengingat keseimbangan ekosistem hutan Sumatra, hilangnya satu tapir dewasa adalah tamparan keras bagi masa depan hutan kita yang kian terfragmentasi," tegasnya. 

Lokasi kejadian hanya berjarak sekitar 2 Km dari batas luar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). 
Titik jalan koridor tempat tapir itu tewas merupakan jalur lintasan alami kuno yang sudah turun-temurun digunakan oleh kawanan tapir untuk bermigrasi dan mencari makan.

Ujang Holisudin, membeberkan semua bukti fisik di lapangan mengarah pada satu kesimpulan pahit, yakni tabrak lari. 

Hasil autopsi visual dan pemeriksaan oleh dokter hewan BBKSDA Riau mengungkapkan adanya luka robek di bagian pinggul serta paha kiri, ditambah luka parah di perut sebelah kanan. 

Darah segar mengalir keluar dari rongga hidung satwa langka tersebut, mengindikasikan adanya hantaman yang sangat masif.

Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Riau langsung ke lapangan setelah mendapat laporan dari Kanit Tipidter Polres Kuantan Singingi dan manajemen PT RAPP pada 16 Juni 2026. 

Pemeriksaan bersama yang melibatkan Kapolsek Logas Tanah Darat, Polisi Kehutanan, serta staf Balai Taman Nasional Tesso Nilo memastikan tidak ada unsur kesengajaan. 

Tim tidak menemukan adanya bekas proyektil peluru, luka tembak, ataupun sayatan senjata tajam yang biasa ditinggalkan oleh pelaku kriminal kehutanan.

Sang tapir dikubur dengan protokol ketat, sesuai prosedur medis satwa liar demi mencegah potensi penyebaran penyakit menular serta risiko zoonosis, penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia yang mengancam warga sekitar maupun pekerja konsesi. (kha)