28 Titik Panas Menyala di Riau, Manggala Agni Lanjutkan Padamkan Karhutla di Bangko Rohil Hari Ini
Sebanyak 28 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, Update 15 Juli 2026 hingga pukul 23.00 WIB. Tim Manggala Agni Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Riau, berpacu dengan angin kencang saat padamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 10 hektare lahan gambut di Kepenghuluan Bagan Punak, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Rabu (15/7/2026).
WARTASULUH.COM, ROKAN HILIR - Sebanyak 28 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, Update 15 Juli 2026 hingga pukul 23.00 WIB. Tim Manggala Agni Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Riau, berpacu dengan angin kencang saat padamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 10 hektare lahan gambut di Kepenghuluan Bagan Punak, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Rabu (15/7/2026).
Forecaster On Duty BMKG Stasiun Pekanbaru Mari Frystine, mengatakan, sebanyak 28 titik panas di Riau tersebar di Kabupaten Bengkalis 12 titik panas, Rokan Hulu, Pelalawan, Kuantan Singingi dan Siak masing-masing 3 titik panas, Kampar 2 titik panas, serta Indragiri Hilir dan Kota Pekanbaru masing-masing 1 titik panas.
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera 236 titik panas yang tersebar di Provinsi Sumatera Selatan 60 titik panas, Kepulauan Bangka Belitung 51 titik panas, Sumatera Utara 31 titik panas, Riau dan Sumatera Barat masing-masing 28 titik panas, Jambi 13 titik panas, Lampung 8 titik panas, Aceh dan Bengkulu masing-masing 7 titik panas serta Kepulauan Riau 3 titik panas," ungkap Mari Frystine, Kamis (16/7/2026).
Sementara itu, kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kepenghuluan Bagan Punak, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau, masih belum berhasil dijinakkan. Setelah bekerja sepanjang hari pada Rabu (15/7/2026), tim gabungan memutuskan melanjutkan operasi pemadaman pada hari ini, Kamis (16/7/2026) karena api masih bertahan di sejumlah bagian area terbakar.
Lokasi karhutla yang diperkirakan mencapai 10 hektare itu ditangani oleh satu regu Manggala Agni Daops Dumai bersama TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan unsur terkait lainnya.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan kondisi lapangan belum memungkinkan operasi dihentikan karena masih terdapat api yang aktif.
"Pemadaman hari kedua di Bagan Punak belum selesai. Api masih bertahan sehingga besok operasi akan kembali dilanjutkan bersama seluruh pihak yang terlibat," ujar Ferdian, Rabu malam.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya luas area yang terbakar, tetapi juga kondisi vegetasi yang mudah terbakar dan cuaca yang kurang bersahabat.
"Di lokasi, bahan bakar berupa semak dan vegetasi kering sangat melimpah. Ditambah lagi tiupan angin cukup kencang sehingga api mudah berpindah dan menyulitkan proses pengendalian. Kondisi seperti ini membuat personel harus bekerja lebih ekstra," katanya.
Ferdian menjelaskan, sejak hari pertama tim telah memetakan kondisi lapangan melalui kegiatan size up untuk menentukan strategi pemadaman. Memasuki hari kedua, seluruh personel difokuskan melakukan penyerangan langsung pada titik-titik api sekaligus menjaga agar kobaran tidak meluas ke area di sekitarnya.
Operasi juga dilakukan di wilayah perbantuan (WB), sehingga koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pemadaman.
Meski menghadapi medan dan cuaca yang menantang, seluruh personel tetap bertahan di lapangan hingga sore hari untuk memaksimalkan upaya pembasahan pada area yang masih terbakar.
"Kami akan kembali melanjutkan operasi besok dengan harapan kondisi di lapangan lebih mendukung sehingga titik-titik api yang tersisa dapat segera dipadamkan. Seluruh personel tetap siaga sampai lokasi benar-benar aman," tutup Ferdian.
Berbeda dengan operasi di Sungai Segajah Jaya yang telah dinyatakan tuntas pada hari yang sama, penanganan di Bagan Punak masih menjadi fokus Manggala Agni Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera mengingat potensi penyebaran api masih cukup tinggi akibat embusan angin dan banyaknya material mudah terbakar di lokasi. (shd)
Lestari



