Gatal di Kulit Seperti Ini Ternyata Bisa Jadi Tanda Penyakit Ginjal
WARTASULUH.COM- Penyakit ginjal sering kali tidak disadari karena gejalanya yang kerap tidak muncul di awal. Tetapi, ternyata tanda-tanda kerusakan ginjal stadium lanjut bisa dideteksi lewat perubahan pada kulit
American Academy of Dermatology (AAD) mengungkapkan bahwa kulit gatal hingga sangat kering adalah salah satu gejala klinis. Kondisi ini paling sering ditemukan pada pasien penyakit ginjal kronis (PGK) stadium lanjut.
Gejala yang muncul pada kulit bukan sekadar masalah estetika, melainkan sinyal bahaya yang dikirimkan oleh tubuh.
1. Gatal Parah yang 'Menyiksa'
Rasa gatal yang ekstrem merupakan tanda bahaya paling umum pada pasien ginjal. Di dunia medis, kondisi gatal akibat penurunan fungsi ginjal ini dikenal sebagai pruritus terkait Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis.
Sensasi gatal yang dirasakan bisa berkisar dari yang ringan hingga sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Berdasarkan laporan National Kidney Foundation, salah seorang pasien bernama Jen menggambarkan rasa gatal ini layaknya 'ditusuk jarum di dalam kulit'.
Sentuhan seringan apa pun bisa memicu rasa gatal tersebut, dan menggaruknya justru membuat kondisi semakin parah. Bahkan, rasa gatal ini bisa menyebar ke seluruh tubuh tanpa peringatan.
2. Kulit Sangat Kering-'Bersisik'
Selain gatal, kulit yang sangat kering, yang secara medis disebut xerosis, juga menjadi penanda utama penyakit ginjal stadium lanjut.
Menurut tinjauan klinis, kekeringan ini terjadi akibat menyusutnya kelenjar keringat dan kelenjar minyak (sebaceous) seiring memburuknya fungsi ginjal. Akibatnya, pelindung alami kulit melemah, membuat pasien rentan terkena iritasi dan infeksi.
Pada pasien penyakit ginjal stadium akhir yang membutuhkan dialisis (cuci darah) atau transplantasi, kulit bisa menjadi sangat kering hingga membentuk pola kasar seperti sisik ikan.
Sebuah studi terhadap 103 anak dengan penyakit ginjal kronis menunjukkan bahwa kulit kering dialami oleh sebagian besar partisipan. Kasus ini jauh lebih banyak ditemukan pada pasien yang menjalani cuci darah (67,6 persen) dibandingkan dengan mereka yang menjalani perawatan konservatif (42,1 persen).
3. Munculnya Bekas Garukan dan Risiko Infeksi
Rasa gatal yang tak tertahankan membuat pasien sering kali menggaruk kulit secara berulang hingga menimbulkan luka, bekas garukan, dan lesi kulit. Jika dibiarkan tanpa penanganan, garukan terus-menerus ini bisa menyebabkan:
Kulit pecah-pecah.
Peningkatan risiko infeksi bakteri.
Gangguan tidur yang parah.
Untuk mengatasi siklus gatal-garuk ini tidak cukup hanya dengan menggunakan pelembap biasa. Dokter spesialis ginjal (nefrolog) sering kali harus berkolaborasi dengan dokter spesialis kulit (dermatolog) untuk memberikan terapi khusus, seperti fototerapi UVB, krim obat, hingga perawatan gatal yang ditargetkan.
Mengapa Ginjal Rusak Bikin Kulit Gatal?
Hingga saat ini, para ahli masih meneliti mekanisme pasti di balik gatal-gatal terkait ginjal ini. Tetapi, National Kidney Foundation memaparkan beberapa faktor pemicu yang diduga saling berkaitan:
Penumpukan racun: Ginjal yang rusak tidak mampu menyaring darah dengan optimal, sehingga racun (uremia) menumpuk di dalam tubuh.
Respons imun berlebih: Sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan dan memicu peradangan.
Gangguan saraf: Terjadinya gangguan sinyal saraf yang berhubungan dengan reseptor opioid pada kulit.
Proses dialisis belum optimal: Sisa zat pemicu gatal masih tertinggal di dalam darah karena proses cuci darah yang kurang memadai.
Para pakar menekankan bahwa masalah kulit pada pasien ginjal adalah indikator klinis yang sangat penting. Kondisi kulit mencerminkan seberapa parah kerusakan organ ginjal, sekaligus menunjukkan seberapa efektif pengobatan yang tengah dijalani oleh pasien.
Khaliza



