Perkemahan Pramuka Santri Nusantara 2026 Akan Digelar di Pesantren An-Nur 2 Malang pada 30 September, Usung Tema ekoteologi

Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) akan digelar Direktorat Pesantren di Pesantren  An-Nur 2 Malang pada 30 September-6 Oktober 2026 dengan mengusung tema ekoteologi.

Perkemahan Pramuka Santri Nusantara 2026 Akan Digelar di Pesantren An-Nur 2 Malang pada 30 September, Usung Tema ekoteologi
Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) akan digelar Direktorat Pesantren di Pesantren  An-Nur 2 Malang pada 30 September-6 Oktober 2026 dengan mengusung tema ekoteologi. FOTO: Kemenag

WARTASULUH.COM, MALANG - Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) akan digelar Direktorat Pesantren di Pesantren  An-Nur 2 Malang pada 30 September-6 Oktober 2026 dengan mengusung tema ekoteologi.

Persiapan ini dibahas dalam Rapat Koordinasi PPSN 2026 pada 7–9 Agustus 2026 di Malang, Jawa Timur, mempertemukan unsur Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan kalangan pesantren.

Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menegaskan, PPSN 2026 tidak boleh sekadar menjadi agenda rutin yang mempertemukan santri penggalang dan penegak dari berbagai daerah. 

Menurutnya, kepramukaan santri harus menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai keagamaan, termasuk dalam membangun kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

“Gerakan Pramuka di lingkungan pesantren memiliki kekuatan moral dan spiritual yang luar biasa. Melalui PPSN 2026, kita mengarusutamakan gagasan ekoteologi dengan menjadikan kesadaran lingkungan sebagai bagian dari nilai keimanan dan kehidupan pesantren. Santri tidak hanya terampil mendirikan tenda atau dalam tali-temali, tetapi juga harus berada di barisan terdepan dalam merawat bumi,” ujar Basnang, dikutip Wartasuluh.com, Minggu (9/8/2026).

Pengasuh Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo Malang, Khoiruddin, menyambut baik penguatan perspektif lingkungan dalam PPSN 2026. 

Ia menilai pesantren memiliki landasan nilai yang kuat untuk menumbuhkan kesadaran ekologis di kalangan santri.

“Pesantren sejak awal mengajarkan kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai cerminan iman. Integrasi nilai-nilai ekoteologi dalam kegiatan kepramukaan santri akan memperkuat karakter santri yang adaptif dan berwawasan global, tetapi tetap berakar pada nilai rahmatan lil ‘alamin,” tutur Khoiruddin.

Dukungan juga disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Budiar. Ia menyatakan kesiapan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk berkolaborasi dengan Kementerian Agama dalam menyukseskan penyelenggaraan PPSN 2026.

Menurut Budiar, perpaduan nilai keagamaan, pendidikan kepramukaan, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi penting di tengah berbagai tantangan ekologis yang dihadapi masyarakat saat ini.

“Jawa Timur bangga menjadi bagian dari persiapan agenda strategis ini. Kami siap memfasilitasi dan berkolaborasi dengan Kementerian Agama agar PPSN 2026 berjalan aman dan lancar, sekaligus meninggalkan dampak nyata bagi keberlanjutan lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.

Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Agung Subagyo, mengatakan rapat koordinasi selama tiga hari tersebut juga membahas berbagai aspek teknis penyelenggaraan, mulai dari kesiapan sarana dan prasarana hingga penyusunan skenario kegiatan. 

Menurut Agung, semangat ekoteologi tidak hanya ditempatkan sebagai tema, tetapi akan diterjemahkan ke dalam berbagai aktivitas selama perkemahan.

“Pendekatan ekoteologi akan tercermin dalam skenario kegiatan, mulai dari pengelolaan sampah selama perkemahan, penanaman pohon, hingga edukasi konservasi alam yang dikemas secara interaktif bagi para santri peserta,” jelasnya.

Rapat koordinasi tersebut menjadi bagian dari pematangan tata kelola dan kerangka pelaksanaan PPSN 2026. 

Sejumlah aspek, mulai dari konsep kegiatan, kesiapan lokasi, sarana dan prasarana, hingga pola kolaborasi antarpihak, dibahas untuk memastikan penyelenggaraan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Melalui penguatan perspektif ekoteologi, PPSN 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ruang pengembangan keterampilan dan kepemimpinan santri melalui kepramukaan, tetapi juga memperkuat kesadaran mereka bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan dan sosial. (kha)