Dari Bahasa Isyarat hingga Apron, Ruang Setara Ubah Cara Pandang Disabilitas
Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida, menegaskan bahwa pendekatan ini sengaja dirancang untuk menggeser paradigma pemberdayaan.
WARTASULUH.COM, PEKANBARU – Tidak ada potong pita dalam peresmian Ruang Setara di Pekanbaru. Sebagai gantinya, seorang barista disabilitas dipasangkan apron, simbol sederhana ini menandai sesuatu yang lebih besar yakni dimulainya peran aktif penyandang disabilitas sebagai pelaku ekonomi, bukan sekadar penerima bantuan.

Ruang Setara—Coffee, Social, and Study Space—hadir sebagai bagian dari program Pemko Pesmina (Pemberdayaan Komunitas Penyandang Disabilitas Pertamina). Program ini merespons persoalan yang selama ini kerap luput yaitu keterbatasan akses ruang inklusif yang benar-benar memberi kesempatan kerja dan kemandirian bagi penyandang disabilitas.
Di ruang ini, inklusi tidak berhenti pada slogan. Sejak awal acara, konsep kesetaraan langsung dirasakan. Tamu undangan tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi diminta diajak berinteraksi menggunakan bahasa isyarat saat memesan menu, menjadi sebuah pengalaman yang membalik perspektif umum tentang komunikasi dan keterbatasan.
Di sisi lain, keterlibatan 195 penyandang disabilitas dalam program Pemko Pesmina ini, mendapatkan pelatihan dan akses untuk aktivitas ekonomi produktif menuju kemandirian.
Mereka dilatih menjadi barista, pelaku usaha kuliner, hingga pengelola layanan seperti laundry sepatu dan pijat tuna netra. Namun pendekatan yang dibangun tidak berhenti pada keterampilan individu. Program ini dirancang sebagai ekosistem guna menghubungkan pelatihan, operasional usaha, hingga pembentukan koperasi disabilitas.
Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida, menegaskan bahwa pendekatan ini sengaja dirancang untuk menggeser paradigma pemberdayaan.
“Melalui Ruang Setara, kami ingin memastikan bahwa inklusi tidak hanya berhenti pada akses, tetapi berlanjut pada kesempatan nyata untuk bekerja, berinteraksi, dan mandiri. Penyandang disabilitas bukan objek program, melainkan subjek yang berdaya dan berkontribusi.”
Ia menambahkan, pengalaman langsung seperti penggunaan bahasa isyarat dalam interaksi sehari-hari menjadi bagian penting untuk membangun empati sosial yang selama ini masih terbatas.
“Inklusi perlu dirasakan, bukan hanya dibicarakan. Karena itu, kami mendorong interaksi langsung agar masyarakat melihat kemampuan, bukan keterbatasannya.”
Apresiasi terhadap inisiatif tersebut juga disampaikan Kepala Dinas Sosial Provinsi Riau, Zulfadli. Menurutnya, langkah yang dilakukan PHR merupakan bentuk nyata implementasi Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2025, yang mendorong perusahaan dan instansi untuk memberikan kesempatan kerja bagi penyandang
disabilitas.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pertamina Hulu Rokan yang telah mengimplementasikan amanat Perda Nomor 9 Tahun 2025. Melalui Kafe Ruang Setara, PHR telah melangkah lebih maju dalam membuka kesempatan kerja bagi teman-teman disabilitas. Ini menjadi contoh nyata bahwa dunia usaha dapat berperan aktif menciptakan lingkungan kerja yang inklusif," Ucap Zulfadli.
Momen paling menyentuh hadir ketika Cici, salah seorang kru dapur penyandang disabilitas, memperkenalkan dirinya menggunakan bahasa isyarat. Dengan senyum yang tak mampu disembunyikan dan sorot mata penuh keyakinan, ia mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan bekerja yang kini dimilikinya.
Baginya, pekerjaan ini tidak hanya sumber penghasilan, melainkan pintu yang membuka mimpi-mimpi yang selama ini menunggu untuk diwujudkan. Ia berharap Kafe Ruang Setara dapat menjadi jalan yang sama bagi lebih banyak teman penyandang disabilitas untuk berkarya dan mandiri.
Program Pemko Pesmina melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, SKK Migas, SLB, hingga komunitas dan koperasi disabilitas. Kolaborasi ini menjadi kunci agar program tidak berhenti sebagai proyek jangka pendek, melainkan berkembang menjadi model pemberdayaan yang berkelanjutan.
Lebih dari sekadar ruang usaha, Ruang Setara menghadirkan cara pandang baru: bahwa inklusi bukan tentang menyediakan tempat khusus, tetapi membuka ruang yang sama—di mana setiap orang, dengan segala perbedaannya, dapat bekerja, belajar, dan tumbuh bersama. (rls)
admin



