advertorial Diskominfo Kampar

Lebih dari Sekadar Idulfitri, Menelusuri Jejak Tradisi dan Kehangatan Hari Raya Enam di Kampar

Lebih dari Sekadar Idulfitri, Menelusuri Jejak Tradisi dan Kehangatan Hari Raya Enam di Kampar
Bupati Kampar, Ahmad Yuzar malakukan ziarah kubur bagian dari ritual budaya dalam perayaan Ayi Ayo Onam. (Foto: Fb Kehumasan Setda Kampar)

WARTASULUH.COM, KAMPAR - Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, tak sekadar menyandang predikat "Serambi Makkah" sebagai slogan belaka. Julukan ini adalah representasi dari detak jantung masyarakatnya yang selaras dengan nilai-nilai Islami. Bagi para pelancong, Kampar adalah destinasi wisata religi yang menjanjikan ketenangan sekaligus kekaguman akan kearifan lokal yang masih terjaga murni.

Puncak dari nuansa religius ini membuncah pada bulan Syawal, tepatnya saat perayaan Ayi Ayo Onam (Hari Raya Enam). Tradisi ini telah mendarah daging di sanubari masyarakat, khususnya di wilayah Bangkinang Kota, Bangkinang Seberang, Salo, Kuok, dan sekitarnya.

Bupati Kampar, Ahmad Yuzar hadir dalam Festival Lemang. Lemang yang merupakan panganan khas masyarakat Kampar menjadi panganan wajib dalam perayaan Ayi Ayo Onam. (Foto: Fb Kehumasan Setda Kampar)

Bagi Bupati Kampar ke-17, Ahmad Yuzar SSos MT, Hari Raya Enam—atau yang akrab disebut Ayo Zora (Hari Raya Ziarah) adalah memori masa kecil yang terus dirawat hingga kini di tahun 2026. Tradisi ini diperingati setiap 8 Syawal, sesaat setelah masyarakat menyelesaikan ibadah puasa sunnah enam hari.

"Bicara soal Ayi Ayo Onam, ingatan kita akan langsung tertambat pada Bangkinang. Ini adalah satu-satunya daerah di Riau yang merayakan hari raya khusus setelah puasa enam hari di awal Syawal," kenang Ahmad Yuzar saat membuka Festival Lomang Ayo Onam di depan Kantor Desa Pulau Lawas, Jumat (27/3/2026).

Lahir dan besar di jantung Bangkinang, Ahmad Yuzar menjelaskan bahwa tradisi ini bersandar pada hadis Rasulullah SAW tentang keutamaan puasa enam hari Syawal yang pahalanya setara dengan puasa setahun penuh. Para orang tua terdahulu memaknai hadis ini dengan segera berpuasa di awal Syawal agar lebih terjaga. "Inilah yang kemudian dirayakan secara kolosal. Magnetnya dalam menyatukan masyarakat bahkan seringkali lebih kuat dibandingkan Idulfitri itu sendiri," tambahnya.

Dukungan Pemprov

Pemerintah Provinsi Riau pun memberikan atensi penuh terhadap potensi budaya ini. Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, menegaskan dukungan penuhnya menjadikan Ayi Ayo Onam sebagai ikon pariwisata religi di Bumi Lancang Kuning.

“Ini adalah kearifan lokal yang tidak dijumpai di daerah lain. Kami mendorong pemerintah daerah untuk terus mempercantik kawasan ziarah agar semakin nyaman bagi peziarah maupun wisatawan. Perayaan ini adalah aset yang harus dikenalkan ke tingkat nasional bahkan mancanegara,” ungkap SF Hariyanto dalam satu kesempatan menghadiri perayaan Hari Raya Enam beberapa waktu lalu.

Senada dengan eksekutif, dukungan kuat juga datang dari pihak legislatif. Anggota DPRD Kampar, Tony Hidayat, menekankan bahwa Ayi Ayo Onam adalah aset daerah yang harus dikelola dengan visi jangka panjang "Ayi Ayo Onam bukan sekadar perayaan seremonial tahunan, melainkan manifestasi dari jati diri masyarakat Kampar yang religius dan menjunjung tinggi adat. Kami di DPRD tentu mendorong agar tradisi ini tidak hanya lestari secara fisik, tapi juga nilai-nilai gotong royong dan spiritualitasnya tetap terpatri di generasi muda. Ini adalah kekayaan intelektual komunal yang harus kita jaga bersama," kata Ketua Komisi II DPRD Kampar tersebut.

"Kita melihat ada potensi ekonomi yang luar biasa setiap kali Hari Raya Enam tiba. Pergerakan orang dalam jumlah besar ini adalah peluang bagi UMKM lokal, mulai dari kuliner lemang hingga jasa lainnya. Kami di legislatif berharap agenda ini dikemas lebih menarik lagi sehingga mampu menarik wisatawan dari luar Riau, yang pada akhirnya akan meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari sektor pariwisata," tegas politisi Demokrat tersebut.

Senada dengan eksekutif, anggota DPRD Kampar, Tony Hidayat, memandang Ayi Ayo Onam sebagai manifestasi jati diri masyarakat yang memberikan dampak ekonomi nyata. "Ayi Ayo Onam bukan sekadar perayaan seremonial tahunan, melainkan manifestasi dari jati diri masyarakat Kampar yang religius dan menjunjung tinggi adat. Kami di DPRD tentu mendorong agar tradisi ini tidak hanya lestari secara fisik, tapi juga nilai-nilai gotong royong dan spiritualitasnya tetap terpatri di generasi muda. Ini adalah kekayaan intelektual komunal yang harus kita jaga bersama."

"Kita melihat ada potensi ekonomi yang luar biasa setiap kali Hari Raya Enam tiba. Pergerakan orang dalam jumlah besar ini adalah peluang bagi UMKM lokal, mulai dari kuliner lemang hingga jasa lainnya. Kami di legislatif berharap agenda ini dikemas lebih menarik lagi sehingga mampu menarik wisatawan dari luar Riau, yang pada akhirnya akan meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari sektor pariwisata," tegas politisi Demokrat tersebut, Kamis (9/4/2026).

Tradisi ziarah kubur mewarnai Ayi Ayo Onam. (Foto: Fb Kehumasan Setda Kampar)

Tak hanya dari sisi ekonomi dan pemerintahan, dimensi nilai adat yang luhur juga menjadi ruh utama. Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, memandang Ayi Ayo Onam sebagai kristalisasi dari filosofi "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah".

"Ayi Ayo Onam adalah bukti nyata kecerdasan leluhur kita dalam mengawinkan ketaatan ibadah dengan penguatan struktur sosial. Tradisi ini bukan sekadar perayaan fisik, melainkan sebuah pernyataan kultural bahwa bagi masyarakat Melayu Kampar, agama adalah hulu dan adat adalah muaranya. Ziarah kubur massal dan makan bajambau di situ adalah simbol pengingat akan asal-usul sekaligus pengikat persaudaraan yang melampaui sekat-sekat status sosial," ulas budayawan penerima penghargaan SEA Write Award tersebut.

Kebanggaan serupa dirasakan Irma, seorang ASN di Pekanbaru asal Bangkinang. Baginya, "roh" hari raya justru lebih terasa saat Ayi Ayo Onam. "Kami sekeluarga tetap konsisten menjalankan tradisi ini. Ziarah kubur dan menyantap hidangan istimewa bersama sanak saudara memberikan ketenangan batin tersendiri. Kami pun melakukan 'mudik kedua' demi momen ini," tuturnya, Jumat (10/4/2026).

Ayi Ayo Onam bukan sekadar seremoni ziarah. Ia adalah bukti otentik bahwa di tengah gempuran modernisasi, masyarakat Kampar tetap teguh memegang marwah. Ini adalah waktu terbaik bagi siapa pun untuk berkunjung ke Kampar, menyaksikan harmoni antara ketaatan spiritual dan kearifan lokal yang abadi. (adv)