Anggota DPRD Riau Ginda Burnama Minta Pemda Waspada Wabah Campak

WARTASULUH.COM, PEKANBARU - Anggota DPRD Riau, Ginda Burnama menyoroti penyebaran kejadian luar biasa (KLB) campak di Indonesia yang semakin meluas. Pemerintah daerah mulai tingkat provinsi hingga kabupaten/kota di Riau diminta waspada terhadap penyakit yang sudah masuk Kejadian Luar Biasa (KLB) di 14 provinsi di Indonesia tersebut.
"Kendati belum ada terkonfirmasi kasus campak ditemukan di Riau, tapi semua kita harus waspada. Jangan sepelekan penyakit ini. KLB campak di Provinsi Kalimantan Selatan dan Kabupaten Sumenep harus menjadi pelajaran bagi kita," ujar Ketua Fraksi Gerindra DPRD Riau tersebut, Rabu (27/8/2025).
Menurut Ginda, Perintah daerah melalui satuan kerjanya seperti Dinas Kesehatan mengambil langkah konkret. Tingkatkan koordinasi dan komunikasi serta intens melakukan penyuluhan tentang penyakit campak ke masyarakat.
"Lakukan penyuluhan ke masyarakat. Libatkan pemerintah desa dan kelurahan hingga perangkatnya sampai ke tingkat yang lebih rendah seperti RT dan RW. Jangan setelah ada kejadian baru bertindak, harus diantisipasi sejak dini," pinta anggota Komisi II DPRD Riau ini.
Peran Puskesmas juga penting untuk mengantisipasi penyebaran campak. "Bila ada yang suspek langsung ambil tindakan cepat," tegas Ginda.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan, penyebaran kejadian luar biasa (KLB) campak di Indonesia semakin meluas. Sampai pekan ke-33 tahun 2025, tercatat 46 KLB campak terkonfirmasi yang tersebar di 42 kabupaten/kota dari 14 provinsi.
“KLB campak pasti ini adalah campak yang setelah pemeriksaan laboratorium positif dan ditemukan antibodi campak pada anak-anak yang menderita gejala,” kata dr Prima Yosephine, MKM, Direktur Imunisasi Kemenkes seperti dikutip dari tribunbanjarmasin, Selasa (26/8/2025).
Prima menyampaikan, jumlah kasus suspek campak secara nasional mencapai 23.128 orang, dengan 3.444 pasien terkonfirmasi. Adapun, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menjadi daerah suspek terbanyak, yakni 2.139 kasus. “Campak ini penyakit berbahaya dan menyebabkan kematian, bahkan penularannya lebih cepat dari Covid-19,” ujarnya.
Ia juga menyinggung cakupan imunisasi masih sangat rendah. Dengan rincian, vaksinasi campak-rubella 1 dan 2 tahun 2025 baru 45 persen dari target 95 persen. (Rik)