Aulia Rizki Anak Desa Tumpok Teungoh Aceh Raih Dua Gelar Magister di Indonesia dan Malaysia
Aulia Rizki anak Desa Tumpok Teungoh, Lhokseumawe, Provinsi Aceh, raih dua gelar magister di Indonesia dan Malaysia. Rizki mendapat kesempatan mengikuti program double degree di Universiti Utara Malaysia (UUM).
WARTASULUH.COM, ACEH - Aulia Rizki anak Desa Tumpok Teungoh, Lhokseumawe, Provinsi Aceh, raih dua gelar magister di Indonesia dan Malaysia. Rizki mendapat kesempatan mengikuti program double degree di Universiti Utara Malaysia (UUM).
Kesempatan tersebut membawanya menempuh studi magister di dua perguruan tinggi, di dua negara, dengan tantangan akademik yang tidak ringan.
Bersama lima mahasiswa lainnya, Rizki berhasil menyelesaikan dua tesis dan meraih dua gelar magister dari Indonesia dan Malaysia.
Aulia Rizki tidak pernah membayangkan, perjalanan itu kelak membawanya berdiri di atas panggung wisuda, mewakili ribuan lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.
“Kami hanyalah anak-anak biasa, berasal dari desa yang mungkin tidak ada dalam peta, namun Allah menitipkan kesempatan yang tidak biasa,” ucap Rizki, dikutip Wartasuluh.com dari laman Kemenag.go.id, Rabu (1/7/2026).
Auditorium Prof. Ali Hasjmy UIN Ar-Raniry pada Senin (22/6/2026) pagi itu menjadi saksi keberhasilan Aulia Rizki.
Di hadapan para wisudawan, orang tua, dosen, dan pimpinan universitas, ia berdiri menyampaikan pesan dan kesan mewakili ratusan lulusan pada Wisuda Gelombang I dan II UIN Ar-Raniry Tahun 2026.
Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, keterbatasan, dan kesempatan besar yang hadir melalui Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) LPDP-Kementerian Agama. Beasiswa inilah yang mengantarkan Rizki, anak dari keluarga sederhana di
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Rizki tumbuh dari lingkungan sederhana yang mengajarkannya untuk tekun, bersyukur, dan tidak mudah menyerah.
Dari rumah dan desa itulah ia belajar bahwa cita-cita tidak selalu lahir dari tempat yang besar. Kadang, mimpi tumbuh diam-diam dari doa orangtua, dari ruang belajar yang terbatas, dan dari keyakinan bahwa pendidikan mampu membuka pintu yang sebelumnya terasa jauh.
Perjalanan akademik Rizki dimulai di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Ar-Raniry. Ia menuntaskan pendidikan sarjananya dalam waktu 3,5 tahun dan meraih predikat lulusan terbaik dengan IPK 3,87.
Capaian itu menjadi pintu bagi perjalanan berikutnya. Rizki memperoleh Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), program beasiswa hasil kolaborasi LPDP dan Kementerian Agama yang membuka akses pendidikan tinggi bagi talenta-talenta terbaik dari lingkungan perguruan tinggi keagamaan.
Bagi Rizki, BIB bukan hanya bantuan pembiayaan studi. Program tersebut menjadi jalan pembuka bagi mahasiswa dari latar belakang sederhana untuk berjejaring, meneliti, dan berkompetisi di ruang akademik internasional.
“Jika enam anak dari keluarga sederhana dapat memperoleh kesempatan tersebut, maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk membatasi mimpinya sendiri. Jika kami bisa, kalian juga, bahkan bisa lebih baik,” ujarnya.
Selama menempuh studi, Rizki tidak hanya berfokus pada perkuliahan. Ia juga aktif melakukan penelitian dan menulis karya ilmiah.
Hingga kini, ia telah menghasilkan lebih dari 20 publikasi ilmiah, termasuk tiga artikel pada jurnal internasional bereputasi Scopus Q1.
Di School of Education Universiti Utara Malaysia, Rizki juga mencatat IPK 3,93, salah satu capaian tertinggi di lingkungan sekolah tersebut.
Prestasinya terus bertambah. Ia pernah meraih Best Presenter pada seminar internasional, Juara I Presentasi Hasil Penelitian UIN Ar-Raniry, serta menjadi pemateri dalam sejumlah konferensi nasional dan internasional.
Namun, di hadapan para wisudawan, Rizki tidak memilih membanggakan deretan prestasi itu. Ia justru menekankan pesan tentang ketekunan, keberanian belajar, dan pentingnya menjaga mimpi agar tidak padam hanya karena keterbatasan.
Baginya, pendidikan adalah investasi yang tidak pernah sia-sia. Ilmu, nilai, pengalaman, dan karakter yang dibentuk selama kuliah akan menjadi bekal untuk menghadapi masa depan yang penuh perubahan.
Kisah Rizki menjadi salah satu potret keberhasilan internasionalisasi UIN Ar-Raniry sekaligus bukti nyata dampak Beasiswa Indonesia Bangkit.
Melalui dukungan BIB dan program double degree, mahasiswa UIN Ar-Raniry mendapat ruang lebih luas untuk belajar, meneliti, dan membawa kapasitas akademiknya ke tingkat global.
Namun, kisah Rizki juga mengingatkan bahwa internasionalisasi tidak selalu berarti meninggalkan akar. Ia justru menunjukkan bahwa anak desa pun dapat berdiri di panggung dunia, membawa nama keluarga, kampus, dan daerahnya, tanpa melupakan asal-usulnya.
Dari Tumpok Teungoh ke Banda Aceh, lalu ke Malaysia, perjalanan Aulia Rizki menjadi pesan sederhana bagi para lulusan bahwa mimpi tidak perlu lahir dari tempat yang megah.
Ia hanya perlu dirawat dengan ilmu, doa, kesempatan, dan keberanian untuk terus melangkah. (kha)
Lestari



