Antara Pekanbaru dan Mekah: Wisuda Mandiri Aziz Rahmansyah di Balik Doa Orang Tua

Antara Pekanbaru dan Mekah: Wisuda Mandiri Aziz Rahmansyah di Balik Doa Orang Tua
Aziz Rahmansyah dan adik tercinta mengabadikan moment penting dalam hidupnya pasca dikukuhkan sebagai lulusan UMRI. (Foto: toat)

WARTASULUH.COM, PEKANBARU — Riuh rendah prosesi Wisuda ke-30 Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) terasa berbeda bagi Aziz Rahmansyah. Di saat wisudawan lain sibuk berfoto bersama orang tua, pemuda asal Rokan Hulu ini hanya tampak didampingi oleh adik tercintanya.

Tidak ada raut sedih, yang ada justru senyum bangga. Rupanya, Ayah dan Bunda Aziz saat ini tengah berada di tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Meski raga mereka terpisah jarak ribuan kilometer, Aziz merasa "hadir"nya doa orang tua justru menjadi bahan bakar utama baginya untuk tetap tegar di podium wisuda.

Perjalanan Aziz meraih gelar sarjana bukanlah cerita tentang mahasiswa yang hanya duduk diam di kelas. Selama empat setengah tahun merantau di Pekanbaru, Aziz memilih jalan yang jarang diambil rekan sejawatnya: menjadi pengemudi GoCar.

Bukan karena kekurangan biaya, mengingat ibunya adalah staf di RSUD Pasir Pengaraian dan ayahnya merupakan staf P3K di Dinas Kesehatan Rokan Hulu. Aziz memilih menarik kemudi demi satu kata: "Kemandirian".

"Bekerja itu bukan cuma soal uang, tapi soal melatih mental di ibu kota provinsi. Saya ingin jadi sosok yang mandiri," ungkapnya tenang.

Kado Indah untuk Ayah Bunda

Meski hari-harinya terbagi antara tugas kuliah dan melayani penumpang di jalanan Pekanbaru, prestasi akademik Aziz tidak luntur. Kerja kerasnya terbayar tuntas dengan raihan IPK 3,71—sebuah angka yang menyematkan predikat Sangat Memuaskan di ijazahnya.

Bagi Aziz, kelulusan ini adalah kado yang ia titipkan lewat doa untuk orang tuanya yang sedang bersimpuh di depan Kakbah.

"Doa Ayah dan Bunda dari Mekah adalah kekuatan terbesar saya. Saya ingin tunjukkan bahwa kepercayaan mereka tidak sia-sia," ujar Aziz dengan mata berkaca-kaca.

Kisah Aziz menjadi pengingat sederhana bagi kita semua: bahwa kesuksesan bukan hanya soal siapa yang mendampingi kita di hari bahagia, tapi soal seberapa kuat kita berjuang saat tidak ada siapapun di samping kita. (Toat)