Pemerintah Batasi Medsos untuk Anak, Bisa Cegah Hipertensi-Diabetes?
WARTASULUH.COM- Pemerintah membatasi akses media sosial (medsos) bagi anak-anak usia di bawah 16 tahun. Kebijakan ini adalah implementasi Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).
Pada peraturan tersebut, pemblokiran akun anak berusia di bawah 16 tahun di sejumlah media sosial dan platform digital berisiko tinggi berlaku efektif mulai 28 Maret 2026. Pada tahap awal, ada delapan aplikasi yang disasar, yakni YouTube, TikTok, Facebook, Threads, Instagram, X, Bigo Live dan Roblox.
Melalui kebijakan ini, pemerintah berupaya memberi perlindungan bagi anak dari berbagai risiko di ruang digital, mulai dari kecanduan gawai hingga paparan konten berbahaya. Kebijakan pembatasan akses media sosial bagi anak di Indonesia dinilai sejalan dengan tren global.
Di Amerika Serikat, isu dampak negatif media sosial juga menjadi sorotan dalam proses hukum di Los Angeles, California. Dalam putusan pengadilan, juri menyatakan Meta bertanggung jawab membayar ganti rugi sebesar US$4,2 juta dan Google sebesar US$1,8 juta.
Pengadilan menilai Google-sebagai pemilik YouTube-dan Meta-pemilik Instagram-lalai karena menerapkan desain yang mendorong kecanduan dan tidak memberikan peringatan ke pengguna terkait risiko dari penggunaan platform mereka.
Sebelumnya, Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan berdasarkan data usia anak Indonesia saat ini, untuk umur 18 tahun jumlahnya sekitar 82 juta anak. Adapun jika lebih spesifik ke umur di bawah 16 tahun, jumlahnya mencapai 70 juta anak.
"Jadi, kalaupun peraturan serupa sudah dilakukan di Singapura dengan penduduk anak 5,7 juta anak (implementasi penundaan akses anak ke ruang digital di Indonesia-red) ini agak berbeda karena skalanya memang cukup besar," ujar Meutya.
Sejumlah Platform Sesuaikan Kebijakan
Untuk memperkuat implementasi aturan ini, pemerintah juga memperkuat regulasi dengan menyiapkan langkah penegakan hukum bagi platform yang tidak mematuhi ketentuan. Saat ini, sejumlah platform saat ini pun mulai menyesuaikan kebijakan mereka dengan aturan tersebut.
Salah satunya X (dulunya Twitter) mengumumkan kewajiban pengguna platformnya wajib berusia 16 tahun yang disebutkan dalam laman Pusat Bantuan X.
Sementara itu, TikTok juga sudah mengeluarkan beberapa fitur untuk memastikan batasan yang optimal untuk penggunanya yang masih muda khususnya remaja. Salah satunya melalui fitur Family Pairing yang memungkinkan orang tua membatasi waktu menonton dan memblokir konten tertentu.
Kemudian, Tiktok juga memberikan kebijakan terkait pemblokiran akun jika menemukan pengguna berusia di bawah 13 tahun. Hal ini tercantum dalam lama Permohonan bantuan dari anak di bawah umur di TikTok.
Hadirnya pembatasan akses gadget dan media sosial terhadap anak menuai respons positif dari berbagai pihak. Ahli Endokrinologi Anak, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.) menilai kebijakan ini memiliki banyak dampak positif bagi anak.
"Orang tua mungkin selama ini sudah mengusahakan yang terbaik untuk membatasi dan mengurangi screen time, namun tidak jarang masih terlewat pengawasan juga. Oleh karena itu peran besar pemerintah disini sangat kita butuhkan dan harus kita dukung," ujar Prof. Aman kepada detikcom belum lama ini.
Risiko Sindrom Metabolik Mengintai
Prof. Aman menjelaskan penggunaan media sosial yang berlebihan turut berkontribusi terhadap risiko metabolic syndrome atau sindrom metabolik melalui beberapa jalur patofisiologi yang saling terkait.
Melansir situs Ditjen Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, sindrom metabolik adalah sekumpulan gejala dari beberapa faktor risiko kardiovaskular termasuk hipertensi, obesitas sentral, dislipidemia, dan hiperglikemia
1. Picu Hipertensi
Penggunaan gadget atau medsos yang terlalu lama dapat mendorong gaya hidup sedentari atau gaya hidup yang kurang aktif bergerak. Prof. Aman menyebut screen time yang berlebihan akan menggantikan aktivitas fisik anak dan menyebabkan penumpukan lemak visceral. Akibatnya, produksi adiponektin atau "hormon pelindung metabolisme" berkurang, kemudian terjadi peningkatan reaksi inflamasi tubuh dan menyebabkan resistensi insulin.
"Resistensi insulin ini kemudian memicu retensi garam di ginjal sehingga volume darah meningkat dan terjadilah hipertensi atau tekanan darah tinggi," papar Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) ini.
2. Gula Darah & Kolesterol Naik
Prof. Aman mengungkapkan gaya hidup sedentari biasanya hampir selalu dibarengi dengan pola makan dan diet anak yang tidak baik. Menurutnya, anak akan cenderung makan junk food, ngemil makanan ringan berproses (ultra processed food) dan konsumsi sugar-sweetened beverages (SSB) saat scrolling.
"Hal ini menyebabkan gula darah menjadi tinggi, kolesterol meningkat dan berakhir sebagai obesitas yang nanti juga menyebabkan hipertensi dan resistensi insulin," jelas Prof. Aman.
3. Risiko Obesitas Meningkat
Prof. Aman mengungkapkan screen time berlebihan akan mempengaruhi kualitas tidur anak dan penelitian menyebutkan screen time >2 jam/hari akan meningkatkan risiko obesitas 67% dan risiko resistensi insulin 4,1 kali lipat.
"Bagaimana bisa? Cahaya biru dari layar gadget dibarengi dengan rasa Fear of Missing Out menyebabkan anak begadang. Kualitas tidur yang menurun akan mengganggu kerja hormon leptin (rasa kenyang) dan ghrelin (rasa lapar) menyebabkan nafsu makan anak meningkat, kalori yang dikonsumsi berlebih namun aktivitas anak tetap atau menurun yaitu gaya hidup sedentari tadi," imbuh Ketua Yayasan Kesehatan Anak Global (YKAG) ini.
Prof. Aman menambahkan, stres psikososial juga dapat memicu reaksi stres kronis dalam tubuh. Hal ini dibuktikan dengan suatu penelitian yang menyatakan bahwa depresi kronis terbukti meningkatkan risiko penyakit diabetes mellitus tipe 2 hingga 60%.
"Keseluruhan hal di atas, obesitas dengan penumpukan lemak visceral, resistensi insulin yang kemudian menyebabkan diabetes, ditambah hypercholesterolemia, dan hipertensi semua ini menjadi building blocks untuk membentuk metabolic syndrome," ucapnya.
Peran Orang Tua Kunci Pencegahan Sindrom Metabolik
Pembatasan media sosial dinilai dapat mencegah munculnya sindrom metabolik pada anak. Sebab, durasi penggunaan gadget atau medsos yang sesuai secara tak langsung dapat mendukung kesehatan anak.
"Pembatasan media sosial bukan sekadar pembatasan sosial, melainkan sebuah intervensi kesehatan berbasis bukti yang secara simultan memperbaiki kualitas tidur, fungsi metabolisme hormonal tubuh, meningkatkan aktivitas fisik, memperbaiki pola makan, dan kesehatan mental," tegas Prof. Aman.
Namun, Prof. Aman menegaskan peran orang tua merupakan faktor kunci dalam pencegahan sindrom metabolik pada anak, terutama di era digital saat ini. Menurutnya, orang tua tidak hanya berfungsi sebagai pengawas, tetapi juga sebagai role model dalam membentuk perilaku sehat,
"Pertama, orang tua perlu mengatur dan mengawasi durasi serta kualitas screen time anak, termasuk memastikan anak tidak terpapar konten secara berlebihan atau melakukan "scrolling pasif" yang berkaitan dengan risiko gangguan mental dan perilaku sedenter," paparnya.
Secara global, lanjut Prof. Aman, World Health Organization (WHO) merekomendasikan durasi ideal penggunaan media sosial pada anak adalah kurang dari 2 jam per hari. Pasalnya, berbagai penelitian menunjukkan dampak negatif screen time mulai muncul setelah melewati batas screen time >2 jam per hari.
Kedua, orang tua perlu menciptakan lingkungan rumah yang mendukung aktivitas fisik, seperti membiasakan olahraga bersama dan mengurangi waktu duduk lama.
"Ketiga, pengaturan pola tidur dan makan juga sangat penting. Penggunaan gadget di malam hari sering menyebabkan gangguan tidur, yang berdampak pada hormon pengatur nafsu makan (leptin dan ghrelin) sehingga meningkatkan risiko obesitas. Selain itu, kebiasaan ngemil saat menggunakan gadget juga harus dikontrol," katanya.
Keempat, orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dan edukasi digital agar anak memahami risiko penggunaan media sosial, termasuk cyberbullying dan tekanan sosial.
Pembatasan Medsos Dinilai Beri Manfaat Jangka Panjang
Kebijakan pembatasan akses media sosial (medsos) bagi anak dinilai memiliki manfaat jangka panjang, khususnya dalam menjaga kesehatan fisik dan mental generasi muda. Prof. Aman berharap kebijakan ini dapat menjadi langkah strategis dalam menekan angka penyakit tidak menular (khususnya obesitas, sindrom metabolik, dan diabetes tipe 2) serta menurunkan risiko cyberbullying dan gangguan kesehatan mental anak & remaja.
"Saya sungguh berharap kebijakan ini menjadi bagian dari gerakan nasional dalam membangun generasi muda Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing di masa depan," tegasnya.
"Anak-anak tidak akan mengingat ponsel atau tablet terbaik yang kau berikan. Mereka akan mengingat saat kau meluangkan waktu untuk bermain, mendengarkan, dan hadir untuk mereka," pungkas Prof. Aman.


Khaliza



