310 Titik Panas Menyala di 8 Daerah, 11 Ton Garam Hujan Buatan Sudah Disemai di Langit Riau untuk Padamkan Karhutla
Sebanyak 310 titik panas (hotspot) menyala di 8 kabupaten/kota di Provinsi Riau, Update 3 April 2026 hingga pukul 23.00 WIB, dengan Hotspot terbanyak di Kabupaten Bengkalis 273 titik panas. Untuk itu, Pemerintah pusat terus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau dengan mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hujan buatan dengan menabur 11 ton garam di langit Riau.
WARTASULUH.COM, BENGKALIS - Sebanyak 310 titik panas (hotspot) menyala di 8 kabupaten/kota di Provinsi Riau, Update 3 April 2026 hingga pukul 23.00 WIB, dengan Hotspot terbanyak di Kabupaten Bengkalis 273 titik panas. Untuk itu, Pemerintah pusat terus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau dengan mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hujan buatan dengan menabur 11 ton garam di langit Riau.
Forecaster On Duty BMKG Stasiun Pekanbaru Yasir P, mengatakan, sebanyak 310 titik panas di Riau tersebar di Kabupaten Bengkalis 273 titik panas, Pelalawan 15 titik panas, Kota Dumai 9 titik panas, Kabupaten Rokan Hilir 6 titik panas, Indragiri Hulu 3 titik panas, Indragiri Hilir 2 titik panas, Kepulauan Meranti dan Kota Pekanbaru masing-masing 1 titik panas.
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera sebanyak 405 titik panas yang tersebar di Provinsi Riau 310 titik panas, Sumatera Selatan 30 titik panas, Kepulauan Bangka Belitung 24 titik panas, Jambi 21 titik panas, Kepulauan Riau 14 titik panas, Aceh dan Sumatera Utara masing-masing 2 titik panas, Bengkulu dan Lampung masing-masing 1 titik panas," ungkap Yasir P, Sabtu (4/4/2026).
Sementara itu, Pemerintah pusat terus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau dengan mengintensifkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya titik api, khususnya di wilayah rawan gambut.
Melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), OMC tahap kedua telah dilaksanakan sejak 28 Maret 2026. Program ini difokuskan untuk meningkatkan curah hujan buatan guna membasahi lahan yang berpotensi terbakar.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Damkar Riau, Jim Gafur, menjelaskan bahwa hingga awal April, total bahan semai berupa garam yang digunakan telah mencapai 11 ton.
“Operasi ini bertujuan memicu hujan buatan agar kondisi lahan, khususnya gambut, tetap lembap dan tidak mudah terbakar,” ujarnya.
Ia menambahkan, operasi kali ini merupakan lanjutan dari kegiatan serupa yang telah dilakukan pada Februari lalu. Pemerintah menilai langkah tersebut cukup efektif dalam menekan potensi kebakaran di sejumlah wilayah.
Adapun sasaran utama penyemaian awan difokuskan di kawasan pesisir timur Riau, meliputi Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir, Siak, Pelalawan, hingga Kota Dumai yang selama ini dikenal sebagai daerah rawan karhutla.
Selain OMC, upaya penanggulangan juga diperkuat dengan dukungan armada udara. Saat ini telah disiagakan satu unit helikopter untuk kegiatan water bombing guna memadamkan api dari udara. Namun demikian, pemerintah daerah masih mengajukan penambahan unit helikopter untuk mengoptimalkan penanganan di lapangan.
“Kami sudah mengusulkan penambahan helikopter water bombing. Saat ini masih dalam proses karena perizinannya cukup panjang,” kata Jim.
Dengan kombinasi OMC dan operasi pemadaman udara, diharapkan potensi karhutla di Riau dapat ditekan sejak dini, terutama menjelang musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran. (shd)


admin



